pers

Pers dan Kitab Wicaksono

ADAKAH YANG PEDULI?

Pers, menurut pengertian dalam Undang-Undangnya adalah:

lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dan menurut hemat saya, blog juga termasuk pers karena sepertinya semua yang dilakukan oleh bloger (si empunya blog) menggunakan cara yang (hampir) sama dengan kegiatan jurnalistik, seperti rutinitas jengjeng yang dilakukan sodara tua saya Zam. Jangan tanya soal kegetolannya dalam dunia modeling atau akting jengjeng, sekali jengjeng dia mampu menuliskan hingga menjadi enam judul tulisan.

Hal lain yang menarik dari UU Pers dengan dunia bloger (yang menurut saya belum atau tidak akan pernah ada UU-nya) adalah aturan main yang ada disana (kode etik jurnalistik).

Saya akan mencoba mengulas beberapa diantaranya,

Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan atau gambar, yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan dan keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh Undang-undang.

Dari situ kemudian saya mulai sepakat dengan tulisan beliau, yang kemudian dikutip dalam kitab yang saya sebut Kitab Wicaksono yang artinya adalah Kitab Wikinya CahAndong Kasoeltanan Ndoyokarto Hadiningrat.

Tentu saja kitab ini tidak bermaksud untuk menyesatken pengunjungnya karena memberikan info yang seenak wudel kontributor sendiri.

“[…] tugas blogger bukanlah menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian.-ndoro kakung-“

Dari dua kutipan di atas, sudah semakin jelas bahwa bloger identik juga dengan aktifis pers. Sehingga sedikit banyak bloger juga harus memperhatiken apa yang sudah disebutken dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Dan isu yang didengungkan tentang Suara Baru Indonesia dalam Pesta Bloger 2007 diharapken bloger juga memberikan kontribusi yang besar kepada negeri ini melalui Maha Karya Tulisan yang terlahir dan mampu mengobarkan semangat baru kepada 220 juta penduduk di Indonesia, layaknya pidato Bung Tomo yang berapi-api dalam pertempuran di Surabaya.

Tidak dapat dipungkiri, sejarah Indonesia tidak lepas dari peran serta pers di dalamnya. Sejak lahirnya organisasi pemuda Boedi Oetomo, pers mulai dirintis. Hingga pada saat proklamasi kemerdekaan RI, peran Pers juga yang menyebarkan hingga pelosok negeri melalui radio, surat kabar dan media lainnya.

Meskipun wartawan masih saja dijuluki kuli tinta, tidak kah begitu hina jika tinta yang mereka gunakan adalah tinta emas untuk sekedar menorehkan goresan-goresan untuk (berusaha) mewujudkan Indonesia Emas.

Begitu besar peran serta PERS dalam sejarah Republik, lantas adakah yang ingat kapan Hari Pers Nasional.

Advertisements