Bensin

ITU CINTA

Dulu waktu jaman SMP saya bingung tentang apa istimewanya hari ini, menurut saya waktu itu biasa-biasa saja, datar seperti hari-hari sebelumnya. Tapi yang saya ingat teman-teman di kelas ribut gara-gara stok cokelat yang mendadak best seller dalam hari-hari itu dan kelabakan mau beli kemana lagi. Lah batin saya waktu itu biasanya beli soto dikantin aja ngutang kok pada nggaya beli cokelat.

Lepas dari itu saya nguping dari teman saya yang (katanya) bintang sekolah kalo dia punya banyak cokelat. “Cilaka pantas saja yang lain ribut mau beli kehabisan, lha wong coklatnya ditimbun si bintang”.

Waktu itu saya dapat cokelat dari teman dekat, tanpa ada kata pengantar dia langsung memberikan begitu saja ke tangan saya tepat di samping gedung sekolah.

Beranjak sedikit tua -halah-, saya baru paham bahwa coklat itu konon (isunya) ungkapan rasa kasih sayang. Tapi kalo menurut saya, coklat itu kan kalo malam dimakan, enak sih, tapi kalo sudah dimakan kan jadi ampas trus paginya dibuang. Lha kalo begitu berarti sama dengan tanda kasih sayang itu “habis manis sepah dibuang”, jadi ya jangan menyesal kalau kelak orang yang diberi tanda kasih sayang (baca: cokelat) terus ditinggal jalan sama OIL (orang idaman lainnya).

Mas, mas, kok ndak nyambung sama judul. Judul tulisannya itu Bensin bukan Coklat!!! Mau nulis BENSIN rasa COKELAT?

Oh maap sodara bukan itu… ini murni khilaf 😀

Kalau menurut saya yang polos dan bukan penganut materialisme ini, kasih sayang itu ibarat bensin. Lho kok bisa?

Ndak usah ngelak, cinta itu kan ya ada pasang surutnya seperti produksi BBM di negara kita yang pasang surut dan bahkan cinderung surut. Ndak percaya? Ya sudah titik.

Tadi yang pertama, yang kedua adalah bensin itu lebih cepat menguap dari pada air biasa, karena saya bukan ahli di bidang itu saya ndak akan memaparkan mengapa bisa demikian, kalau mau tau silahkan ngambil kuliah subuh sama emak sampean dirumah. Sama seperti cinta kan? Lihat saja artis-artis di ibukota sana, hari ini cerai besoknya dah gandeng sama yang lain. Ndak usah dipermasalahkan, itu kan masuk dalam pilihan hidup. Hidupku bukan hidupmu dan you know lah lanjutannya.

Yang ketiga, sudah pernah mengalami bagaimana sulitnya ngantri di SPBU? Jelas bukan untuk antri ke toilet tapi untuk beli premium atau bensin. Nah kadang cinta itu juga sulit dicari, termasuk dalam daftar langka sembako kehidupan. Misalnya, bloger kelompok jahat (kata simbok venus) akan merasa bahagia akan hadirnya bloger pelepas dahaga.

Yang ke empat, naiknya harga BBM jelas akan berdampak pada mereka yang sedang dimabuk asmara. Bagaimana tidak? Anggaran pulsa HP disisihkan untuk belanja BBM. Bahkan usaha mengencangkan ikat pinggang seperti puasa senin kemis pun dilakuken hanya demi mendapatkan simpati calon mertua untuk membeli bensin guna berkunjung dan bertatap muka dengan pujaan hati. Di pihak lain, pilih mau SMS-an tapi ndak bisa jalan-jalan gara-gara ndak ada bensin atau sebaliknya?

Dan satu lagi, apa sampean percaya ada cinta 100% untuk satu orang saja? Saya kok belum percaya. Hati kita cuma satu. Tidak mungkin kalau hanya untuk satu orang saja. Hati musti di kapling, entah besar kecilnya itu relatif dan hak prerogatif yang mau bagi kaplingan wong yang punya hati.

Kalau sudah mengamini paragraf di atas, sampaikan slogan penjual bensin yang tak jauh dari tempat tinggal saya seperti di bawah ini pada kekasih anda.

“Cintamu tak semurni bensinku”

Akhirnya saya ucapkan “Selamat menikmati limpahan cokelat di hari ini” bagi yang mendapatkan program pengentasan gizi buruk, bagi yang tidak kebagian, jangan iri hati karena kita musti membaca taubat penggemar cokelat sebagai penawarnya. Anda merayakan? Saya tidak. Selamat merayakan bagi anda yang merayakan 🙂

Advertisements

Warung HOROR

Akitifitas makan terasa begitu enak ketika kita berada ditempat yang nyaman, bersih dan suasana mendukung. Tentu saja menu makanan yang murah atau mahal belum jaminan terasa enak di lidah.

Pernah liat atau denger cerita penjual bakso yang mangkal di pinggir jalan kemudian didatangi pembeli yang ternyata adalah sundel bolong/kuntilanak? Itu sih adanya cuma di pilem.

Ada tetangga saya yang pernah diajak pergi melalanglang buana dara -tentu saja dunia lain- bersama dua sosok misterius tinggi dan berpawakan hitam disaat hari menjelang maghrib. Dari dia, saya dapet cerita bahwa dia ditawari makan tetapi setelah diamati hanyalah sepiring nasi -yang berisi pasir- dengan bakmie -yang katanya cacing hidup- di atasnya dan ia pun tak mau memakannya (true story).

Tapi lain halnya ketika yang terjadi adalah suasana makan terusik karena penjual ternyata adalah keturunan “DHEMIT” (sebangsa makhluk halus) atau koleganya? Tentu hal ini akan membuat bulu kuduk berdiri dan segera kita tinggalkan warung itu. Kecuali bagi yang sengaja mencari wangsit, sekedar tanya lotre besok pagi yang keluar berapa atau datang dengan kondisi perut benar-benar lapar.

Untung warungnya buka siang, kalo pas malam hari apa ndak tambah semegrik? Kalau sampean tertarik untuk njajal masakannya silakan cari alamat “jalan raya jatinom klaten”, jalur ini merupakan jalur alternatif Boyolali – Klaten. Saya sih cukup numpang lewat saja.

“Mbah dhemit” mungkin hanyalah julukan atau nama panggilan akrab seseorang, bukan makhluk halus beneran tentunya.

Need help

Ada yang punya tips bagaimana supaya pekerjaan DAN ATAU tugas kuliah (seperti skripsi atau tugas lainnya) tidak mengganggu aktifitas ngeblog?

Saya sudah coba tekan F1 pada keyboard tapi ndak muncul juga jendela HELP yang saya inginken. Mau ke customer service bingung mau ngetuk pintu yang mana.

Pers dan Kitab Wicaksono

ADAKAH YANG PEDULI?

Pers, menurut pengertian dalam Undang-Undangnya adalah:

lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dan menurut hemat saya, blog juga termasuk pers karena sepertinya semua yang dilakukan oleh bloger (si empunya blog) menggunakan cara yang (hampir) sama dengan kegiatan jurnalistik, seperti rutinitas jengjeng yang dilakukan sodara tua saya Zam. Jangan tanya soal kegetolannya dalam dunia modeling atau akting jengjeng, sekali jengjeng dia mampu menuliskan hingga menjadi enam judul tulisan.

Hal lain yang menarik dari UU Pers dengan dunia bloger (yang menurut saya belum atau tidak akan pernah ada UU-nya) adalah aturan main yang ada disana (kode etik jurnalistik).

Saya akan mencoba mengulas beberapa diantaranya,

Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan atau gambar, yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan dan keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh Undang-undang.

Dari situ kemudian saya mulai sepakat dengan tulisan beliau, yang kemudian dikutip dalam kitab yang saya sebut Kitab Wicaksono yang artinya adalah Kitab Wikinya CahAndong Kasoeltanan Ndoyokarto Hadiningrat.

Tentu saja kitab ini tidak bermaksud untuk menyesatken pengunjungnya karena memberikan info yang seenak wudel kontributor sendiri.

“[…] tugas blogger bukanlah menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian.-ndoro kakung-“

Dari dua kutipan di atas, sudah semakin jelas bahwa bloger identik juga dengan aktifis pers. Sehingga sedikit banyak bloger juga harus memperhatiken apa yang sudah disebutken dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Dan isu yang didengungkan tentang Suara Baru Indonesia dalam Pesta Bloger 2007 diharapken bloger juga memberikan kontribusi yang besar kepada negeri ini melalui Maha Karya Tulisan yang terlahir dan mampu mengobarkan semangat baru kepada 220 juta penduduk di Indonesia, layaknya pidato Bung Tomo yang berapi-api dalam pertempuran di Surabaya.

Tidak dapat dipungkiri, sejarah Indonesia tidak lepas dari peran serta pers di dalamnya. Sejak lahirnya organisasi pemuda Boedi Oetomo, pers mulai dirintis. Hingga pada saat proklamasi kemerdekaan RI, peran Pers juga yang menyebarkan hingga pelosok negeri melalui radio, surat kabar dan media lainnya.

Meskipun wartawan masih saja dijuluki kuli tinta, tidak kah begitu hina jika tinta yang mereka gunakan adalah tinta emas untuk sekedar menorehkan goresan-goresan untuk (berusaha) mewujudkan Indonesia Emas.

Begitu besar peran serta PERS dalam sejarah Republik, lantas adakah yang ingat kapan Hari Pers Nasional.

Musuh terbesar adalah

DIRI SENDIRI

Pernah merasa bimbang diantara dua pilihan atau lebih? Ya saya mengalaminya beberapa waktu lalu.

Hidup itu pilihan katanya, tetapi saat-saat menentukan pilihan itulah pekerjaan/tantangan yang paling berat. Berbagai pertimbangan, berbagai masukan terkadang meringankan atau malah sebaliknya semakin memberatkan neraca masing-masing pilihan yang berat sebalah.

Disatu sisi, semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

Saat-saat seperti itu ada kalanya kita gencar bertemu dan memerangi musuh yang paling kuat dan hebat. Musuhnya siapa? Ya EGO yang dalam diri kita sendiri.

Orang yang berpikir pendek kadang sampai harus bunuh diri. Saya juga berpikir bunuh diri. Bunuh diri tidak semata-mata diartikan mengakhiri hidup. Bunuh diri yang dimaksud adalah membunuh EGO dalam diri sendiri. Namun tak bisa. Paling tidak sudah ada usaha untuk mengurangi dominasi EGO yang berusaha mengkudeta diri saya.

Ternyata tak mudah menemukan persembunyiannya, pertama musuh ini semu tapi nyata. Semu karena memang tidak berwujud, nyata karena memang ada dalam diri kita. Kedua, tak semudah membalikan telapak tangan untuk mengurangi EGO seseorang.

Gambar dari sini