Umum

Pertemuan vs perpisahan

Dua kejadian diatas bisa mengundang ekspresi yang bermacam-macam. Tidak setiap pertemuan bisa mengundang kebahagiaan, begitu juga dengan perpisahan yang tidak selalu berkahir dengan tangisan.

Membaca tulisan bung M. Zamroni perihal perpisahannya dengan Taufiq Ismail yang juga teman saya di komunitas CahAndong, perpisahan adalah hal yang wajar dan pasti terjadi dalam setiap pertemuan/perjumpaan. Sedih, haru tapi juga bangga ketika kami harus berpisah karena memang teman yang biasa suka dipanggil tuuuupic(tulisannya bener begini bukan ya?) berhasil menyelesaikan studinya.

Ingat kawan, perpisahan hanyalah perbedaan dimensi ruang. Kita cuma beda tempat saja, komunikasi masih bisa kecuali kalau yang bersangkutan tinggal di pelosok yang belum terjamah sinyal HP apalagi internet. Pesan saya ketika tinggal di pelosok dan tak ada sinyal disana, jangan lupa beli sinyalnya juga(basbang yah?).

Perpisahan dengan penculik mungkin itu hal yang diinginkan oleh korban penculikan seperti Raisya Ali yang akhirnya berpisah dengan sang penculi, begitu juga pertemuan dengan sang penculik mungkin akan mengakibatkan trauma yang mendalam.

Berbeda jika kita bertemu dengan sang pujaan hati, bisa membuat hari begitu indah ketika berada disampingnya bahkan ketika hari sedang hujan begitu deras. Ngomong soal pujaan hati saya jadi inget cerita dari teman saya, suatu hari dia bangga dengan IPK yang diperoleh 3,8 (hebat banget nih anak). Niatnya mau pamer sama do’i. Sinar matahari yang terik pun tak menghalangi perjalannya ke tempat kos si do’i. “Cihuuiiii, 3,8!!!” katanya pada sang do’i. Tapi siang itu juga do’i mengatakan “Kita putus!!”, sontak saja langit menjadi gelap meski saat itu matahari bersinar dengan teriknya. Kalau yang ini pertemuan yang menyakitkan bukan?

Berbagai cara kita mengahadapi pertemuan dan perpisahan, harus disadari bahwa setiap pertemuan cepat atau lambat pasti akan ada perpisahan. Entah itu perpisahan yang seperti apa tapi pasti di ujung pertemuan pasti ada perpisahan.

Advertisements

Bogem, [salon] khusus pria

Khitan atau orang biasa sebut dengan sunat, supit, kalo di jawa disebut tetak sudah ada sejak jaman dulu dan bisa cek artikelnya tante wiki. Khitan juga salah satu anjuran dalam agama Islam.
Kenal dengan bapak yang ada di dalam foto ini?

Ya, Alm. Raden Ngabehi Notopandoyo pendiri Bong Supit BOGEM. Awal bulan lalu saya berkesempatan mengantarkan keponokan khitan. Bagi anda yang dulu juga di mutilasi khitan di Bogem mungkin masih sempat yang merasakan eksekusi khitan oleh pak Noto sendiri, tapi kini beliau sudah tiada maka eksekutornya beralih ketangan para karyawan atau pun keluarganya. Saya sendiri dulu tidak sempat mencicipi tajamnya alat khitan yang di BOGEM (bukan berarti saya mau ngicipi khitan yang kedua kali, hehehehe…)

Sebelum dieksekusi, terlebih dulu melakukan pendaftaran. Jangan takut tersesat karena disana sudah tersedia papan petunjuknya, kurang lebih seperti ini:

Dan langsung masuk ke bagian administrasi ketemu dengan bapak yang ada dalam foto di bawah ini (sayangnya saya ga tau namanya).

Apa yang perlu dibawa waktu eksekusi? Yang jelas adalah anak yang mau disunat jangan sampai ketuker sama bapaknya. Kemudian sarung, dipakai waktu eksekusi dan sesudahnya. Persiapan yang lain adalah kain mori nah yang ini saya kurang tau untuk apa. Ada yang tau? Jika anda lupa tidak membawa semuanya (kecuali anak yang mau disunat lho ya) sudah ada yang menyediakan tetapi harus merogoh kocek anda pribadi. Dan yang terakhir jangan lupa melakukan pembayaran tunai karena disana tidak menerima pembayaran secara elektronik apalagi sistem KREDIT. Harganya variatif, kelas ekonomi Rp. 400.000,- (harga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan) bedanya dimana si? Bedanya cuma di kasurnya aja kok, mau yang single bedroom atau double, untuk cara eksekusi tenang saja tidak perlu takut karena tidak ada perbedaan proses eksekusi berdasarkan kelas kamar.

Bagi anda yang ingin mencoba lagi ketajaman peralatan sunat di Bogem tentu saja bagi putra, saudara atau tetangga karena saya yakin bagi kaum lelaki cukup sekali saja karena memang menyakitkan(kalau ke enakan biasanya minta tambah/di ulang lagi) berikut alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi, silahkan dicatat sendiri-sendiri, bagi yang tidak bawa alat tulis bisa pinjam teman sebangkunya.

Bagiamana, tertarik untuk mencoba? Sesampai di rumah, jangan kaget kalau ada yang memberikan ucapan “Selamaat menempuh hidup bentuk baru” karena memang ini terjadi pada keponakan saya *ya jelas aja, yang ngasi ucapan yang nulis tulisan ini*

Yang menarik dari Bogem selain Bong supitnya adalah lokasi SMP Bogem (SLTP N 1 Kalasan) yang justru tidak terletak di Bogem dan justru SMU N 1 Kalasan yang terdapat di Bogem tidak mendapat julukan SMU Bogem. Ada lagi yang ini mungin rada rusuh (saya baca di stiker yang nempel di helm orang beberapa tahun yang lalu) bertuliskan:

Bogem

Seperti yang terdapat di stiker Hugo’s cafe yang banyak menempel di kaca belakang mobil-mobil, sepeda motor atau helm cuma kalimat dibawahnya diganti “Salon titit setitit-tititnya“, mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan karena saya cuma menulisakan apa yang saya lihat pada stiker tersebut.

Rokok, Polisi dan Olahraga

Kasus seperti ini sudah pernah diulas oleh paman tyo yang risih dengan adanya papan bertajuk kantor Polisi tapi terpampang juga merk rokok dibawahnya, atau lebih dalamnya pama yang satu ini membahas tentang etika beriklan atau dalam konteks kerjasama. Untuk mendukung tulisaan Paman Tyo, ternyata sudah sampe Jogja model-model iklan seperti ini. Seperti di bilangan Condong catur ini.

Sebenarnya sepanjang Jln. SWK saya temukan 2 instansi Kepolisian yang seperti ini (sebelumnya mohon maaf kepada bapak-bapak polisi), satu POLSEK Depok Timur sama di POS LANTAS perempatan UPN Veteran Yogayakarta, Janti, Maguwo, dan yang lainnya yang mungkin belum saya temui, saya tidak berkomentar soal iklannya karena sudah cukup dibahas oleh Paman Tyo. Cuma yang rada mengganjal “OBSESI: SIAP MELAYANI MASYARAKAT“, kalau ditilik dari segi bahasa seperti dijelaskan di Majalah Pengusaha mirip dengan cita-cita tapi di iklan produk yang ada di televesi, contoh nih ya obsesi sutradara, seakan-akan dia bergaya layaknya sutradara yang main cut adegan karena ada adegan yang tidak sesuai dengan skenarionya. Mudah-mudahan saya yang salah persepsi dalam mengartikan kerjasama di atas. Tapi kok alangkah baiknya kalo Departemen sekelas POLRI secara independent/netral membuat papan sendiri.

Lain halnya dengan kasus di atas, bagaimana dengan acara-acara olahraga di televisi yang mengusung produsen rokok sebagai sponsor utamanya? Bukankah ini suatu yang berseberangan olahraga yang bisa membuat badan sehat sedangkan rokok yang kata pemerintah dapat merugikan kesehatan? Hal semacam ini sering diangkat dalam diskusi ataupun dalam sebuah debat bahasa inggris. Ditinjau dari segi ekonomi memang ini sangat menguntungkan bagi pihak televisi dan produsen rokok, tapi bisa jadi juga ini doktrinisasi penonton untuk membeli rokok merk tertentu atau bahkan mempengaruhi penonton untuk mencoba menikmati tembakau yang dikemas sedemikian rupa? Yang seakan-akan kalau merokok bisa membuat seseorang sebagai seorang pemberani, gentle, dsb. Bagaimana menurut anda?

Pekerja TI paling rentan perceraian, nah loh!!

DetikNet, busyet dah…..bagi teman-teman sesama pekerja di bidang TI (Teknologi Informasi) di negara tetangga kita India, sudah 40% dari 3000 kasus perceraian disana adalah pekerja di bidang TI. Gaji gede, hidup mapan itu di India sono, nah kalo di Indonesia? Udah gajine pas-pasan, hidupnya penuh was-was, gizi buruk we lah kok terancam perceraian juga. Nasib-nasib, untung ga full time di bidang TI paling ga dapet jatah jaga gawang di pendaftaran mahasiswa baru cukup lah buat mengobati HOAX ancaman-ancaman seperti itu.

Meskipun wanita kadang menjadi masalah, toh para IT worker laki-laki tambah bermasalah lagi tanpa wanita (yang merasa IT worker atau bukan ngaku aja deh). Hmmm…pesan saya kepada pejuang TI di Indonesia, tenang sodara-sodara itu cuma terjadi di India kok, Indonesia kalo bisa ya jangan lah.  Untuk menghindari hal-hal semacam ini jangan menganggap monitor sebagai istri kedua, apalagi kalo sampai bekerja 25 jam per hari, heran….

Ruler in toilet

Hmm, yang salah yang bikin pengumuman atau salah persepsi dari yang baca? Gambar disamping saya ambil disalah satu kamar kecil yang terdapat di masjid di bilangan kampus UPN Condong catur. Kalo kita baca tulisan pada gambar disamping berbunyi :

Aturan WC / Ruler in toilet

  • Nyalakan air jika bak belum penuh…
  • Silakan buang hajat senyaman mungkin….
  • …..

Dari judul yang berbahasa Indonesia mungkin sudah paham bahwa itu adalah aturan yang berlaku selama menggunakan kamar kecil/WC, tetapi untuk yang berbahasa Inggris semacam pemberitauan kalo di WC ada penggarisnya, wah sebelum pake toilet harus sibuk nyari penggaris yang ada dalam WC, lha ini gimana….

Kepada takmir masjid, mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Jelasnya, saya senang Sholat Jum’at di Masjid itu.