Sambung rasa

Akhir cerita

Sedih, berat ketika kita mendengar kata perpisahan. Sejak mengenalmu bulan Mei 2007 tahun lalu, kau sudah menjadi sahabat dekatku. Tempatku berbagi cerita, berkeluh kesah, berbagi ide yang kadang tolol tapi kau tetap saja setia mendengarkannya.

Banyak cerita ketika melihatmu down, ketika melihatmu berganti wajah, dan ketika melihat perkembanganmu hingga kini. Terlalu banyak cerita kalau ingin aku tuliskan disini.

Tidak ada pesta dengan secuil kue yang bisa kuberikan sebagai ungkapan terima kasih. Karena memang aku yang tak mampu menggantikan jasamu.

Sampai jumpa sahabatku, kelak jika dikau kangen, kau bisa temui aku disana. Pesanku simpan baik-baik semua keluh kesah yang memang tidak harus terpublikasi yang ada padamu.

Salam,

Angan

Kita musti sadar bahwa dengan ijin Tuhan kita akan bertemu dengan usia senja. Bloger juga manusia bukan? Bukan sosok sakti mandraguna yang akan hidup sepanjang masa.

Siapa yang ndak kenal trio macan bloger yang sering dielu-elukan sebagai trimaskenthir di komunitas CahAndong? Siapa lagi kalau bukan pakdhe mbilung mac ndobos, ndorokakung dan paman tyo. Yah mereka adalah “kiblat” bloger jogja, meskipun tak sedikit juga bahan pembicaraan mengenai “ayam jantan”bloger yang rendah hati” dari timur.

Belakangan ini geng trimaskenthir seperti terlibat dalam perang. Perang profesi atau apalah namanya. Tapi saya amati ini lebih ke jenaka, tidak ada niat saling menjatuhkan dari singasana trimaskenthir (terlepas dari benar atau tidaknya profesi yang dijadikan amunisi tersebut).

Lihat saja rentetan serbuan dari ndorokakung dari tukang bakmi, jasa touris yang digawangi pakdhe ndobos. Seperti tak mau kalah pakdhe ndobos memberikan serangan balik dengan temuan bahwa ndoro kakung yang ternyata adalah seorang juragan pulsa dan pengusaha kripik.  Atau ontran-ontran tentang sebuah salon yang konon kabarnya milik paman yang punya duit meteran?

Diusia yang sudah matang dengan segudang pengalaman hidup seperti mereka, siapa yang tidak mengangguk, terpingkal-pingkal ketika membaca tulisan-tulisan diblog mereka.

Kelak kira-kira 20 tahun lagi, masih adakah bloger-bloger seperti antobilang, si Matt, tikabanget gojek kere perang profesi seperti yang dilakuken trimaskenthir? Meskipun saat ini sudah ada yang mulai mengikuti jejak trimaskenthir untuk membagikan penemuan profesi bloger yang mereka kenal seperti sandal dan kang hedi. Akankah mereka akan dinobatkan menjadi trimaskenthir sayap kiri yang menyeimbangkan trimaskenthir sayap kanan?

Ah sudahlah saya terlalu banyak berangan-angan dan penasaran, bagaimana nasib bloger (paling tidak beberapa bloger yang saya kenal saat ini) kelak mendapat undangan kopdar di usia senja. Yang jelas saya rindu kopdar dengan mereka.

Pers dan Kitab Wicaksono

ADAKAH YANG PEDULI?

Pers, menurut pengertian dalam Undang-Undangnya adalah:

lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dan menurut hemat saya, blog juga termasuk pers karena sepertinya semua yang dilakukan oleh bloger (si empunya blog) menggunakan cara yang (hampir) sama dengan kegiatan jurnalistik, seperti rutinitas jengjeng yang dilakukan sodara tua saya Zam. Jangan tanya soal kegetolannya dalam dunia modeling atau akting jengjeng, sekali jengjeng dia mampu menuliskan hingga menjadi enam judul tulisan.

Hal lain yang menarik dari UU Pers dengan dunia bloger (yang menurut saya belum atau tidak akan pernah ada UU-nya) adalah aturan main yang ada disana (kode etik jurnalistik).

Saya akan mencoba mengulas beberapa diantaranya,

Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan atau gambar, yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan dan keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh Undang-undang.

Dari situ kemudian saya mulai sepakat dengan tulisan beliau, yang kemudian dikutip dalam kitab yang saya sebut Kitab Wicaksono yang artinya adalah Kitab Wikinya CahAndong Kasoeltanan Ndoyokarto Hadiningrat.

Tentu saja kitab ini tidak bermaksud untuk menyesatken pengunjungnya karena memberikan info yang seenak wudel kontributor sendiri.

“[…] tugas blogger bukanlah menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian.-ndoro kakung-“

Dari dua kutipan di atas, sudah semakin jelas bahwa bloger identik juga dengan aktifis pers. Sehingga sedikit banyak bloger juga harus memperhatiken apa yang sudah disebutken dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Dan isu yang didengungkan tentang Suara Baru Indonesia dalam Pesta Bloger 2007 diharapken bloger juga memberikan kontribusi yang besar kepada negeri ini melalui Maha Karya Tulisan yang terlahir dan mampu mengobarkan semangat baru kepada 220 juta penduduk di Indonesia, layaknya pidato Bung Tomo yang berapi-api dalam pertempuran di Surabaya.

Tidak dapat dipungkiri, sejarah Indonesia tidak lepas dari peran serta pers di dalamnya. Sejak lahirnya organisasi pemuda Boedi Oetomo, pers mulai dirintis. Hingga pada saat proklamasi kemerdekaan RI, peran Pers juga yang menyebarkan hingga pelosok negeri melalui radio, surat kabar dan media lainnya.

Meskipun wartawan masih saja dijuluki kuli tinta, tidak kah begitu hina jika tinta yang mereka gunakan adalah tinta emas untuk sekedar menorehkan goresan-goresan untuk (berusaha) mewujudkan Indonesia Emas.

Begitu besar peran serta PERS dalam sejarah Republik, lantas adakah yang ingat kapan Hari Pers Nasional.

Berita cuaca

Sudah hampir satu minggu ini, Yogyakarta mengalami masa-masa dimana cuaca yang tidak menentu. Di siang hari sebentar panas, sebentar hujan kemudian panas lagi. Pada malam harinya taburan bintang-bintang di langit pun tidak bisa menjadi pertanda bahwa hari tidak akan hujan. Seperti tadi malam dalam perjalanan untuk membahas acara bloger BEKISAR (bersih-bersih sekitar mercusuar), hujan pun turun secara parsial dan tidak merata di semua wilayah bahkan hanya dalam radius 2-3 km.

Hal seperti ini kadang sering membuat kita jengkel, karena sudah terlanjur berhenti untuk mengenakan rain coat (jas hujan) dan melanjutkan perjalanan. Belum beranjak jauh, kita sudah melihat jalur yang kita lewati kering tanpa ada bekas air sedikitpun yang membasahi jalan. Nggonduk, mungkin orang jawa begitu menyebutnya.

Lantas saya berpikir, dulu yang biasanya di setiap program acara berita distasiun tv selalu menayangkan prakiraan cuaca, kini hampir tidak ada atau ditiadakan mungkin karena kondisi cuaca yang tidak menentu dan takut jika esoknya dituduh sebagai penyebar HOAX.

Kita sebagai manusia, harusnya bisa tau diri bahwa bumi tempat kita berpijak ini sudah sepuh. Kalau orang sudah sepuh, biasanya baru jalan sedikit saja sudah keluar keringat dan ngos-ngosan. Selain itu bisa jadi nama “Global Warming” membuat bumi ini merasa panas dan sering berkeringat bahkan pada malam hari. Jikalau “Global warming” bisa ngeblog, mungkin dia akan menuliskan tentang curahan hatinya “Mengapa saya yang selalu dituduh menjadi biang kerok semua bencana di muka bumi ini?”.

Jika air hujan di ibaratkan sebagai keringat bumi ini, sampai kapan kita biarkan bumi kita memiliki keringat berlebih. Kita harus respect dengan tempat tinggal kita, kita harus pikirkan deodorant untuk mengatasi keringat berlebih ini.

12 cara yang ditulis KOMPAS, mungkin bisa menuntun kita untuk menjadikan bumi terhindar dari penuaan dini dan tentu saja lebih awet muda. Atau untuk yang lebih senang menggunakan bahasa impor, enn.com menurut saya cukup bagus untuk kita translate dan dipublikasikan ke khalayak umum.

Saya jadi teringat dengan lagu yang dipopulerkan Gombloh lantas di daur ulang oleh Group musik Boomerang dan judulnya saya jadikan judul tulisan ini, berikut sepenggal liriknya,

Mengapa tanahku rawan ini
Bukit bukit telanjang berdiri
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung pun malu bernyanyi

Kuingin bukitku hijau kembali
Semenung pun tak sabar menanti
Doa kan kuucapkan hari demi hari
Kapankah hati ini kapan lagi

Mungkin seperti itulah kondisi saat ini tentang sebuah bola besar yang melayang-layang di angkasa bersama benda langit lainnya dengan manusia yang berakal cerdas diatasnya.

Titip candi prambanan ya…

Not aku pamit ya? Wish me luck 4 the best! 🙂 Titip candi prambanan ya

Begitu sms darinya semalam, mak jenggirat saya kaget campur haru tur bangga.

Mengapa Kaget?

Saya bener-bener ndak nyangka kalau tanggal 12 yang dia maksud waktu melakukan perjalanan ndoyok bersama Jengjeng Tour, di kawasan elit Kotagede beberapa waktu yang lalu adalah hari keberangkatannya ke Jakarta.

Sesal saya adalah ketika tawaran jengjeng kedua di Kotagede tanggal 1 Muharam kemarin saya tolak dengan suksesnya. Dengan dipameri Zam bahwa mereka telah membuktikan warung yang pintunya sempat menimbulkan tafsir yang berbeda-beda diantara kami.

Mengapa Haru?

Sejak saya tercebur dalam komunitas CahAndong Juni tahun lalu, terlalu banyak kenangan yang melibatkannya dalam perhelatan Kopdar, baksos, ndoyok™. Menurut pengakuan dari seorang ahli arkeologi yang juga menyatakan dirinya sebagai sebagai Sultan Ndoyokarto Hadiningrat,

Saya bakal merindukan saat-saat seperti ini. Gojek kere bersama doyoker trainee, karena sebentar lagi ada yang meninggalkan Jogja ke Jakarta.

Ya, ndoyok is life style menurutnya. Saya cuma berpikir ndoyok di Jakarta itu jauh dekat pasti pake duit dan rumit, dari itu apakah dia masih bisa memekikan dengan lantang “Ndoyok is life style”??

Saya Bangga

Saya bangga bisa belajar banyak dari seorang yang humoris dengan gaya dan selera humor yang intelek seperti sampeyan.

Kalo dulu dia yang terusik dengan dongeng pengantar tidur dari sahabat yang pergi ke Jakarta, kini giliranku yang menuliskannya. Kelak siapa lagi yang akan menuliskan seperti ini tanpa farewell party?

Wish you luck for the best, Didit Kurniawan. Semoga kau dapatkan dotcom-mu disana, bukan diditbanget.com, bukan juga diditku.com bahkan bukan pula diditbilang.com.

Dan…, Candi Prambanan sudah saya titipkan ke Pak Satpam yang tiap hari jaga disana. Semoga kau dapatkan penawar stresmu di BHI karena banyak dokter spesialis jampi stress yang buka praktek setiap Jumat malam disana.