NKRI

Blog Plat Merah

Ternyata bukan hanya kendaraan dinas saja yang berplat merah. Kapling villa baru saya disana atau yang dikapling sebelahnya juga disponsori oleh lembaga pemerintah yang menangani perguruan tinggi. Mau tau ceritanya silahkan bertandang ke villa baru saya disana. Saya sudah berhasil meracuni niko yang tersesat sampai nico.dikti.net, bisakah saya meracuninya untuk berpindah menggunakan engine wordpress? Kita tunggu saja.

Selamat mencoba!

 

Pancasila, riwayatmu kini

Adakah yang ingat bahwa hari ini adalah 1 Oktober bertepatan dengan hari kesaktian Pancasila? Kesaktian yang dimaksud disini bukan seperti kesaktian Moh. “Zam” Bandung Bondowoso yang mencoba menyelesaikan posting 1000 candinya. Saya tidak akan membahas tentang Pancasila itu sendiri karena saya yakin semua sudah hafal dari sila ke-1 sampai ke-5 meski sering pada lupa di sila ke-4 karena mungkin terlalu panjang.

Dulu setiap awal masuk sekolah, biasanya diadakan yang namanya Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tentang butir-butir Pancasila yang awalnya ada 36 butir mengembang menjadi 45. Alih-alih mau mengamalkannya, menghafalkannya pun tak sanggup lagi (inget waktu SD ujian PMP tentang butir-butir P4).

Tapi sekarang bagaimana nasibnya Pancasila? Pancasila saat ini menurut saya hanya sebagai sebatas simbol, atau idiologi Parpol atau organisasi masa yang lainnya.

Mungkin terlalu jauh kalo saya memikirkannya dalam-dalam, lebih baik saya berfikir bagaimana saya bisa keluar dari status “Fakir Bandwith”, ingat sila ke-5 kawan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” dan UUD 1945 pasal 34 ayat 1, Fakir bandwith miskin dan anak terlantar dipelihara Negara jadi ga ada salahnya untuk membantu 2,5% dari bandwith yang anda pakai untuk diperbantukan kepada kaum “Fakir Bandwith” seperti saya.

Monumen Plataran

Monumen Plataran berlokasi di Plataran, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta tak jauh (baca: ± 8 km) dari tempat saya ngeyup sehari-hari (baca: rumah) .  Didirikan tanggal 24 Februari 1977, monumen ini adalah salah satu monumen dari 2 monumen yang didirikan untuk mengenang parana pejuang taruna yang mempertahankan kemerdekaan RI tahun 1945-1949.  Satu monumen yang lain adalah SMP Taruna Bhakti (sekarang SLTP N 2  Kalasan) yang didirikan 4 km di selatan monumen ini.

Saksi bisu

Pagi itu, Selasa Pon 24 Februari 1949 telah terjadi pertempuran di desa Plataran, Selomartani, Kalasan antara pejuang-pejuang Indonesia (tentara Indonesia dan rakyat sekitar) dengan kerajaan Belanda.  Pagi itu juga tewas dalam pertempuran 2 orang perwira  remaja, 5 taruna dan anggota tentara pelajar, 2 orang luka parah.  Ratusan nama yang tertulis di bawah patung itu lah mereka yang bertempur pagi itu.

Sebagai tanda penghormatan bagi para taruna yang telah berjuang untuk negara kita, atas prakarsa Mayor Jenderal Wijogo Atmodarminto dan didukung donatur yang telah membantu proyek pendirian monumen ini.  Sebut saja pak Ali Sadikin, Suparjo Rustam, Susilo Sudarman dan juga Bang Yos (Sutiyoso) yang disebutkan dalam prasasti sebagai perwira senior saat itu (1977).

30 tahun kemudian

Saat ini jika kita berkesempatan jeng-jeng (pinjam istilah M. Zamroni) kesana, tidak ada perawatan secara khusus terhadap monumen yang notabene sebagai tanda penghormatan terhadap pejuang negeri yang menghargai jasa para pahlawan ini.  Apalagi di belakang
patung pak tentara itu terdapat banyak tulisan tangan-tangan jahil.

Sebenarnya tulisan-tulisan seperti ini sudah bisa kita jumpai di pintu masuk.  Apa karena masuk monumen ini tidak di pungut biaya para pengunjung bisa melakukan seenak udel-nya sendiri?  Dan mereka(tangan-tangan jahil) tak rela jika ada tembok yang bersih kemudian menorehkan nama geng(komunitas) mereka di tembok/dinding itu?  Tapi lebih memprihatinkan lagi adalah orang yang membiarkan tulisan itu tetap disana dan justru mengambil fotonya. Yuk bersama kita, Benahi Jakarta Indonesia!!!

Terlepas dari keseriusan tulisan ini 

Setelah lelah berjalan, maka saatnya saya mencoba membidik diri sendiri.  Yah, sangat manusiawi ketika mencoba mengabadikan diri sendiri sebagai kenang-kenangan, meskipun saya datang kesana sendiri.

Jangan suka kencing sembarangan, karena sudah disediakan toilet disana.  Kalau masih nekat mungkin akan seperti ini akibatnya, meskipun saya sedang tidak melakukan aktifitas kencing™.

Sebelum meninggalkan monumen jangan lupa ambil gambar kita dan kuda kendaraan yang sudah mengantar kita sampai tempat tersebut.

Akhirnya, Dirgahayu Republik Indonesia!!!

Tanggal 17 bagi saya…..

17 agustus 2007, pagi itu saya bangun dengan sangat tergesa-gesa mengingat ada upacara bendera di sini, selain sebagai warga negara yang baik saya juga takut kalo kena somasi SP1 dari atasan. Sampai di TKP, gerbang sudah hampir di tutup dan saya pun termasuk orang yang terakhir datang. Ketemu sama 2 teman saya mas kun dan funkshit setelah tanya peruhal absen saya pun konsen di upacara meski sedikit ada canda dan cekikik ala tukang ngarit ditengah khidmatnya peserta upacara yang lain.

Upacara selesai dan seperti biasa ada semacam resepsi kenegaraan yang isinya acara makan-makan, nyanyi-nyanyi, pembagian doorprize, dll. Saya sendiri cuma ikut acara makan-makan tok. Karena tak melihat 2 teman saya tadi, maksud hati mau ngajak makan-makan gratis tapi tak kunjung datang juga. Akhirnya saya menuju ruangan tempat saya biasa kerja. Tampak disana Kepala Bagian dan para Kepala sub Bagian termasuk 2 teman saya yang tadi. Akhirnya saya terjebak kemacetan tak bisa pulang karena harus membantu menyelesaikan pembuatan pekerjaan atasan. Jam 12 sholat jum’at di masjid kampus dan jam 3 sore baru bisa pulang.

Setelah ganti kostum dan nyangking tas motor diarahkan ke tempat tujuan yang hampir saja terancam gagal akibat pekerjaan non lembur tadi. Setidaknya di tempat tujuan saya bisa sekedar ngambil pesenan saya ke mas adi selain tujuan utamanya kopdar bersama rekan-rekan cahandong yang lainnya yang dimeriahkan juga oleh alunan suara artis ibukota bencong.

17an, Ini cara kami!!

Masih dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI ke-62, meskipun saya harus berurusan dengan Pak Polisi lagi.  Dari tanggal 12 kemarin saya bersama teman-teman sekampung mulai punya gawe dari bersih2 kampung, lomba anak-anak, malam apresiasi dan renungan suci.

Lomba yang diadakan masih yang umum-umum dan sering diadakan seperti lari bendera, gigit kelereng, gigit uang, sampai sepakbola mini dangdut, dll.  Meski waktu itu minim dukungan dari orang tu, tapi terlihat anak-anak peserta lomba.

Mereka rela berkotor pelumas karena harus berebut koin yang tertanam dalam buah semangka dan berbasah ria karena air yang mereka pukul sendiri,  sepertinya mereka tidak peduli lagi demi memeriahkan HUT Indonesia.

Sebagai penutup adalah lomba sepakbola mini ya bisa dibilang mirip futsal.  Perlombaan berakhir saat adzan Maghrib dikumandangkan dengan hasil pertandingan 5-1.

Malemnya sebagai wakil dari pemuda, mengadakan rapat dengan orang tua di Rengasdengklok rumah salah satu warga untuk membahas rumusan naskah proklamasi pensi dan acara malam 17. Paginya saya langsung menghubungi teman-teman pemuda yang lainnya untuk mengadakan rapat dadakan berhubung waktu yang tersisa tinggal 3 hari.  Pukul 7.30 malam kami berkumpul di Mushola untuk membahas lebih jauh.

H-1 saya terpaksa harus lembur dekorasi sampai jam 5 pagi, paling ga saya bisa share disini, ini hasilnya:

 

Dan seperti sudah banyak dibahas tentang nasionalisme, mungkin nesionalisme tidak sekedar ikut upacara tanggal 17 Agustus, tidak sekedar memekikkan “Merdeka!!” tetapi tindakan yang nyata.