Curhat

Hallo world

Menengok catatan lama, rindu ingin menulis kembali dan akhirnya saya dapatkan lagi passwordnya.

Hallo dunia ūüėÄ

Advertisements

Need help

Ada yang punya tips bagaimana supaya pekerjaan DAN ATAU tugas kuliah (seperti skripsi atau tugas lainnya) tidak mengganggu aktifitas ngeblog?

Saya sudah coba tekan F1 pada keyboard tapi ndak muncul juga jendela HELP yang saya inginken. Mau ke customer service bingung mau ngetuk pintu yang mana.

Musuh terbesar adalah

DIRI SENDIRI

Pernah merasa bimbang diantara dua pilihan atau lebih? Ya saya mengalaminya beberapa waktu lalu.

Hidup itu pilihan katanya, tetapi saat-saat menentukan pilihan itulah pekerjaan/tantangan yang paling berat. Berbagai pertimbangan, berbagai masukan terkadang meringankan atau malah sebaliknya semakin memberatkan neraca masing-masing pilihan yang berat sebalah.

Disatu sisi, semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

Saat-saat seperti itu ada kalanya kita gencar bertemu dan memerangi musuh yang paling kuat dan hebat. Musuhnya siapa? Ya EGO yang dalam diri kita sendiri.

Orang yang berpikir pendek kadang sampai harus bunuh diri. Saya juga berpikir bunuh diri. Bunuh diri tidak semata-mata diartikan mengakhiri hidup. Bunuh diri yang dimaksud adalah membunuh EGO dalam diri sendiri. Namun tak bisa. Paling tidak sudah ada usaha untuk mengurangi dominasi EGO yang berusaha mengkudeta diri saya.

Ternyata tak mudah menemukan persembunyiannya, pertama musuh ini semu tapi nyata. Semu karena memang tidak berwujud, nyata karena memang ada dalam diri kita. Kedua, tak semudah membalikan telapak tangan untuk mengurangi EGO seseorang.

Gambar dari sini

Maaf, gelas saya penuh

Seperti memori dalam sebuah komputer yang memiliki kapasitas terbatas, begitu juga kita manusia yang dikarunia sebuah organ yang juga berfungsi sebagai penyimpan memori bernama “otak”.

Seperti komputer yang kadang sampai hank, tidak dapat digerakan kursornya karena memori penuh demikian juga manusia.  Beban yang begitu berat dan banyak membuat pikiran saya sedikit kacau.  Mungkin ini kesalahan saya karena saya menganggap apa yang sudah menjadi kewajiban saya sebagai beban. 

Niatnya saya enjoy dan berfikir secara slow, tetapi tidak bisa jika tugas datang bertubi-tubi dan tidak sedikit berakibat pada tekanan mental yang teramat sangat dahsyat. 

Bagaikan gelas, saat ini saya adalah gelas yang hampir terisi penuh dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi saya.¬† Saya pingin melepaskan isi gelas ini, tetapi apa daya, tidak ada gelas lain¬† yang mau diajak berbagi.¬† Saya tidak mau menjadi gelas yang serakah dengan menampung “isi” terlalu banyak, sampai luber yang isinya membasahi mana-mana, mubazir katanya.

Kalau gelas saya isinya es cendol, air teh atau sekedar air putih itu nikmat sekali, tetapi bagaimana jika isinya pekerjaan dan tugas kuliah bir yang sangat memabukkan.

Saya ingin melepas tahta tanggung jawab ini, tetapi kepada siapa saya musti mengadu untuk melapaskannya?  Saya rela meninggalkan kursi empuk dengan banjir bandwith  ini asalkan saya bisa sedikit mengosongkan gelas yang hampir penuh ini.   Apa saya harus berpindah ke meja sebelah?  Siapa tahu disana saya bisa menjadi gelas yang setengah kosong dan bisa lebih menikmati hidup, meskipun akibatnya saya harus menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Malam ini, saya musti berangkat ke “kawah condrodimuko” niatnya untuk menimba ilmu.¬†¬†¬†Semoga tidak ada yang mengisi gelas saya lagi dengan cairan berwarna¬†putih yang terlihat seperti susu tetapi ternyata bukan, hanya¬†air tajin (air yang ada pada saat menanak nasi)¬†yang jauh dari bergizi katanya.¬† Ya, saya masih terbebani tugas-tugas akhir semester.¬† Kalau ada mahasiswa yang bilang, dosen adalah penentu nasibnya, mungkin saya¬†berbisik mengamini meskipun di hati saya sangat mengamini¬†penentu segalanya adalah Dia Yang Maha Berkehendak.

Maaf, gelas saya penuh. Ke gelas yang lain saja. Duh Gusti, paringono kawulo kesabaran, jembar atine lan dowo ususe. Amin.

Berita cuaca

Sudah hampir satu minggu ini, Yogyakarta mengalami masa-masa dimana cuaca yang tidak menentu. Di siang hari sebentar panas, sebentar hujan kemudian panas lagi. Pada malam harinya taburan bintang-bintang di langit pun tidak bisa menjadi pertanda bahwa hari tidak akan hujan. Seperti tadi malam dalam perjalanan untuk membahas acara bloger BEKISAR (bersih-bersih sekitar mercusuar), hujan pun turun secara parsial dan tidak merata di semua wilayah bahkan hanya dalam radius 2-3 km.

Hal seperti ini kadang sering membuat kita jengkel, karena sudah terlanjur berhenti untuk mengenakan rain coat (jas hujan) dan melanjutkan perjalanan. Belum beranjak jauh, kita sudah melihat jalur yang kita lewati kering tanpa ada bekas air sedikitpun yang membasahi jalan. Nggonduk, mungkin orang jawa begitu menyebutnya.

Lantas saya berpikir, dulu yang biasanya di setiap program acara berita distasiun tv selalu menayangkan prakiraan cuaca, kini hampir tidak ada atau ditiadakan mungkin karena kondisi cuaca yang tidak menentu dan takut jika esoknya dituduh sebagai penyebar HOAX.

Kita sebagai manusia, harusnya bisa tau diri bahwa bumi tempat kita berpijak ini sudah sepuh. Kalau orang sudah sepuh, biasanya baru jalan sedikit saja sudah keluar keringat dan ngos-ngosan. Selain itu bisa jadi nama “Global Warming” membuat bumi ini merasa panas dan sering berkeringat bahkan pada malam hari. Jikalau “Global warming” bisa ngeblog, mungkin dia akan menuliskan tentang curahan hatinya “Mengapa saya yang selalu dituduh menjadi biang kerok semua bencana di muka bumi ini?”.

Jika air hujan di ibaratkan sebagai keringat bumi ini, sampai kapan kita biarkan bumi kita memiliki keringat berlebih. Kita harus respect dengan tempat tinggal kita, kita harus pikirkan deodorant untuk mengatasi keringat berlebih ini.

12 cara yang ditulis KOMPAS, mungkin bisa menuntun kita untuk menjadikan bumi terhindar dari penuaan dini dan tentu saja lebih awet muda. Atau untuk yang lebih senang menggunakan bahasa impor, enn.com menurut saya cukup bagus untuk kita translate dan dipublikasikan ke khalayak umum.

Saya jadi teringat dengan lagu yang dipopulerkan Gombloh lantas di daur ulang oleh Group musik Boomerang dan judulnya saya jadikan judul tulisan ini, berikut sepenggal liriknya,

Mengapa tanahku rawan ini
Bukit bukit telanjang berdiri
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung pun malu bernyanyi

Kuingin bukitku hijau kembali
Semenung pun tak sabar menanti
Doa kan kuucapkan hari demi hari
Kapankah hati ini kapan lagi

Mungkin seperti itulah kondisi saat ini tentang sebuah bola besar yang melayang-layang di angkasa bersama benda langit lainnya dengan manusia yang berakal cerdas diatasnya.