blusukan

Warung HOROR

Akitifitas makan terasa begitu enak ketika kita berada ditempat yang nyaman, bersih dan suasana mendukung. Tentu saja menu makanan yang murah atau mahal belum jaminan terasa enak di lidah.

Pernah liat atau denger cerita penjual bakso yang mangkal di pinggir jalan kemudian didatangi pembeli yang ternyata adalah sundel bolong/kuntilanak? Itu sih adanya cuma di pilem.

Ada tetangga saya yang pernah diajak pergi melalanglang buana dara -tentu saja dunia lain- bersama dua sosok misterius tinggi dan berpawakan hitam disaat hari menjelang maghrib. Dari dia, saya dapet cerita bahwa dia ditawari makan tetapi setelah diamati hanyalah sepiring nasi -yang berisi pasir- dengan bakmie -yang katanya cacing hidup- di atasnya dan ia pun tak mau memakannya (true story).

Tapi lain halnya ketika yang terjadi adalah suasana makan terusik karena penjual ternyata adalah keturunan “DHEMIT” (sebangsa makhluk halus) atau koleganya? Tentu hal ini akan membuat bulu kuduk berdiri dan segera kita tinggalkan warung itu. Kecuali bagi yang sengaja mencari wangsit, sekedar tanya lotre besok pagi yang keluar berapa atau datang dengan kondisi perut benar-benar lapar.

Untung warungnya buka siang, kalo pas malam hari apa ndak tambah semegrik? Kalau sampean tertarik untuk njajal masakannya silakan cari alamat “jalan raya jatinom klaten”, jalur ini merupakan jalur alternatif Boyolali – Klaten. Saya sih cukup numpang lewat saja.

“Mbah dhemit” mungkin hanyalah julukan atau nama panggilan akrab seseorang, bukan makhluk halus beneran tentunya.

Advertisements

Andakah Pemilik Bekisar Selanjutnya?

Hari ini saya, membaca beberapa bloger yang bercerita tentang Bloger Bekisar, meskipun jumlahnya belum ada apa-apanya dibandingkan jumlah tulisan meninggalnya H.M Suharto yang mendominasi blogsphere dan layar tipi. Tetapi ya ndak apa-apa, kalo berharap Bekisar bisa nongol di tipi, nunggu ada reporter tipinya ngeblog dulu mungkin kali ya hehehehe…

Seperti blonjo kupat oktober lalu, saya akan menuliskan cerita bagaimana ada bekisar yang bisa menetas diantara bloger jogja.

Kalau biasanya ayam akan menetas setelah dierami 21 hari, telur bekisar ini cukup dierami cukup 10 hari.

18 Januari 2008

Pada kopdar jumat malam itulah gagasan bersih-bersih pantai ditelurkan. Mereka yang membidani keluarnya telur ini adalah antobilang, amma dan cowoknya adiknya, zam, kang Gandung, Funskhit, Sandal, Ekowanz, Alex, Rudy Gunawan, Leksa, Tikabanget dan saya, semoga ga ada yang terlewatkan dalam daftar hadir.

19 Januari 2008

Pemilik gagasan pun langsung menuliskan sebuah ide sosial, dan ternyata cukup efektif untuk mencari sandal bekas, melihat banyaknya ditemukan sandal bekas dalam acara tersebut entah disengaja atau bukan.

20, 21, 22 Januari 2008

Menteri urusan Kopdar Kabinet Jengjeng Bersatu, memberikan siaran pers melalui blognya dan meresmikan bannernya. Dan menuliskan mengapa dinamai Bloger Bekisar dan alasan diadakan acara ini dua hari berturut2 setelah siaran pers.

24 Januari 2008

Dukungan bloger untuk acara ini mulai dapat dirasakan atmosfirnya. Tidak tanggung-tanggung sebuah armada bus dibajak disewa untuk mengangkut bloger yang tidak membawa sepeda motor. Meskipun pada akhirnya sampah hasil perburuan juga ikut masuk ketika pulang dari Pantai Pandansari, hehehehe

skip, skip, skip… banyak kopdar pendukung yang tidak saya ikuti dari pada saya salah tulis mending ndak saya tulisken disini.

26 Januari 2008

Menteri keuangan pun kemudian membentuk bloger KORUP (Komisi Urusan Pangan) dalam acara Bloger Bekisar tersebut, yang beranggotakan sandal, antobilang, Zam, funkshit dan saya. Tenang sodara-sodara tidak ada yang korupsi diantara kami, kami selalu patungan untuk acara makan siang dan makan malam dan menggunakan uang kami sendiri. Kalo ndak percaya bisa dilakukan audit, kalo perlu KPK juga diundang.

Jajaran Bloger KORUP sedang mejeng nunggu SPG pulang kerja

27 Januari 2008

Hari yang dinanti pun tiba, pelataran benteng Vredeburg ramai dengan orang-orang yang sedang menikmati hari libur mereka. Saya yang menjanjikan akan mengikuti penambangan vitamin A (baca: cuci mata) pun gagal datang jam 6 pagi. Konyolnya selain bangun kesiangan, saya juga harus pergi ke ATM karena sampe SPBU lupa ndak bawa uang sepeser pun padahal bensin sudah terlanjur masuk ke tangki motor, fyuuuh….

Akhirnya sekitar jam 10 kami sampai di pantai. Setelah memastikan kondisi sepeda motor orang nomor satu di Kasultanan Ndoyokarto Hadiningrat (baca: Zamroni) yang mendapatkan musibah ban bocor ditengah rute pendoyokan (ini salah satu pemerkosaan bahasa bukan?).

Acara dipantai bagaimana? Ya seperti yang direncanakan acara bersih-bersih pun dimulai. Dan hampir 30 orang bloger turut membidani menetasnya telur bekisar.

Kami sadar apa yang kami lakukan bukanlah apa-apa. Paling tidak kami sudah menetaskan satu bekisar di Yogyakarta. Selanjutnya tinggal ditunggu saja akankah bekisar-bekisar yang lain juga akan menetas di Indonesia.

Saya mewakili Pemerintahan Kabinet Jengjeng Bersatu Kasultanan Ndoyokarto Hadiningrat, mengucapkan terima kasih kepada insan bloger yang sudah memberikan dukungan dalam acara ini, baik yang turut terjun langsung dalam acara, dukungan moral dan materi ataupun yang sudah berkenan memberikan doa.

Saya yakin tidak akan ada alamat blog kita dalam buku sejarah anak cucu kita kelak, tapi saya yakin apa yang telah kita lakukan akan dicatat oleh malaikat juru catat amal baik.

Pastikan, anda adalah pemrakarsa Bloger Bekisar selanjutnya, di pantai-pantai kesayangan anda!

Tahun baru lagi, perlu resolusi?

Menginjak hari ke-9 di tahun 2008 ini kita bertemu dengan pergantian tahun versi kalender komariyah atau penanggalan berdasarkan perputaran bulan mengitari bumi.

Bagi orang yang awam seperti saya, saya ndak tau apakah jatuhnya pergantian tahun yang biasa disebut Tahun Hijriyah ini juga muncul dua versi ada yang memperingati hari ini atau besok seperti dua hari besar yang telah dirayakan umat muslim di Indonesia beberapa tahun lalu.

Apa perlu ritual khusus?

Menurut saya kok acara-acara spesial dalam menyambut atau merayakan pergantian tahun adalah hal yang cinderung berfoya-foya atau kalau bukan itu lebih mengharapkan sesuatu dengan melakukan ritual-ritual khusus (di luar kekuatan Tuhan). Mulai hari ini, saya yakin tempat-tempat yang diyakini angker atau memiliki kekuatan magis mulai rame di datangi banyak orang. Seperti kalau di Jogjakarta, dengan pergi ke pantai-pantai tertentu, pemakaman, atau dengan berendam ditempat-tempat keramat.

Kepergian saya ke pantai Pandansari beberapa hari yang lalu bukan untuk mencari wangsit di akhir tahun 1428 H tetapi lebih untuk menikmati sunset.

Bukannya saya tidak setuju, tetapi lebih karena saya menyesuaikan dengan komunitas di sekitar saya. Tapi yang perlu ditekankan disini adalah bergantinya tahun adalah hal yang biasa seperti bergantinya bulan dengan bulan berikutnya, hari dengan hari berikutnya. Seperti datangnya siang setelah malam dengan pagi yang membatasi keduanya.

Kalau ditilik lagi, bukankah tanpa pergantian detik ke menit, menit menjadi jam pergantian tahun tidak pernah ada? Jadi mana yang seharusnya kita renungkan? Pergantian tahun atau bergantinya detik ke detik berikutnya? Jadi kalau bisa disiapkan sebelum bergantinya malam dengan siang mengapa resolusi hanya dicanangkan di awal tahun?

Anak-anak berendam di depan Masjid Agung Kota Gede (masjid tertua di Yogyakarta), saya yakin mereka tidak sedang melakukan ritual khusus menjelang 1 Suro (1 Muharam–jawa).

Pemerkosaan Bahasa

Bukan hanya wanita yang menjadi korban, kosakata juga sering manjadi korban permerkosaan dengan memaksakan untuk digunakan dalam percakapan atau pergaulan sehari-hari. Kalau dulu jaman saya masih duduk di bangku sekolah teknik, “nge-dring dulu” adalah bahasa yang biasa digunakan kepala laboran untuk menawarkan minuman ke yang lainnya.

Lain lagi dengan akhiran “isasi” seperti yang digunakan pada kata “mobilisasi”, “organisasi”. Menurut kitab primbon bahasa Indonesia yang saya miliki, bahwa akhiran “isasi” sebenarnya bukan akhiran seperti “an” pada “ciuman”, atau akhiran “kan” pada “bayangkan”. Jadi mobilasasi adalah kata serapan yang lazim kita gunakan berasal dari bahasa Inggris “mobilization”, begitu pula dengan organisasi yang ternyata bukan berasal dari kata organ dibubuhi akhiran “isasi”, meskipun kata mobil dan organ juga terdapat dalam bahasa Indonesia. Jadi tepatkah kata “Bloggerisasi” sebagai jargon untuk mencapai 1 juta blogger di Indonesia di tahun 2008 -oleh oleh Pesta Blogger 2007-, atau “nDoyokisasi” untuk memasyarakatkan “nDoyok” dan mendoyokkan masyarakat.

Mendadak sok tehe –pepeng style- tentang perbahasaan karena saya merasa terusik campur geli ketika melihat hasil perburuan foto saya di Candi Prambanan bersama teman saya -kali ini bukan Komandan nDoyoker– akhir Desember kemarin. Dalam foto di bawah ini, bukan gadis yang ada dalam foto atau ibunya -yang keliatan tangannya pegang kamera- yang diperkosa, tetapi Headline metamorfosa atau kaleidoskop candi Prambanan pasca “Gempa” yang tak kalah menarik.

Saya menyebutnya sebagai salah satu bentuk promosi agar bahasa kita -yang diwakili “Gempa”- bisa diserap oleh pendatang dari luar negeri. Kata Gempa pada banner dengan tanda petik (“…”) memperjelas bukan karena salah cetak, atau salah pemilihan bahasa ketika merancang dan mencetak banner tersebut.

Saya bukan mau ngambil gambar si cewek, tetapi emang ceweknya aja yang ga mau pergi watu saya membidiknya.

Penginnya sih, kelak dalam kamus Oxford menjelaskan bahwa:

earthquake: see Gempa; a natural phenomenon that results from the sudden release of stored energy in the Earth’s crust that creates seismic waves.

 

Ngintip dapur TV lokal

Tadi siang, saya berkesempatan blusukan ke dapur salah satu televisi lokal yang berpusat di Yogyakarta. Blusukan kali ini masih dalam rangka kunjungan media yang diselenggarakan oleh LPJB (Lembaga Pelatihan Jurnalistik Bernas). Kebetulan saya di-dapuk untuk mengikuti pelatihan jurnalistik oleh atasan ditempat saya menghabiskan waktu untuk blogwalking bekerja.

Sebenarnya sudah sejak September atau semenjak saya didaulat sebagai wartawan kagetan™ sudah ada di komunitas LPJB, tetapi dua acara terakhir ini membuat saya lebih antusias dari pada saya harus duduk di belakang meja dan mendengarkan mentor yang berdiri di depan kelas.

Usut punya usut, ternyata efek dari aktifitas jeng-jeng yang di-doktrin-kan ke saya oleh pakar jeng-jeng beserta jurkam (juru kameranya) telah berhasil merasuki hingga alam bawah sadar saya. Istilah ndoyok atau jalan-jalan dan blusukan ke tempat-tempat yang sebelumnya sudah atau belumpernah dikunjungi makin beken saja di otak saya.

Kembali ke TV lokal tadi, setiba di kantor redaksi kami disambut senyum manis wanita yang sangat casual dan tidak mboseni baik dari sisi penampilan ataupun gaya bicaranya. Mbak Widi namanya. Dari mbak ini juga saya jadi tau pilar yang dijunjung dan diangkat sebagai konten utama tv tersebut: budaya, pariwisata dan pendidikan.

Dari tiga pilar tersebutlah saya menitipkan pesan untuk disampaikan ke direktur dan komisaris jangan seperti tv yang katanya TV Pendidikan Indonesia tetapi berubah haluan ke jalur siaran yang hampir tidak ada bau-bau pendidikan di jadwal acaranya. Bisa jadi karena mengkuti trend yang diangkat oleh tv swasta yang lain sehingga kebijakan pimpinan untuk banting stir ke acara-acara “seleb instan”, musik dangdut, sinetron, dll.

Jogja TV

Sejujurnya saya lebih suka acara telivisi yang lebih banyak mengangkat budaya ketimbang kontes “seleb instan” lebih-lebih sinetron -meskipun dulu saya sempat gandrung sinetron Tersanjung 1 – till drop, Tersayang, Tercinta dan Ter-ter yang lain- yang semakin lama semakin membodohi penonton dan njelehi.

Yah kalo tv di ibaratkan blogger ya seperti kang matriphe yang istikomah dengan mengangkat kearifan budaya Indonesia melalui candi, makanan, dll.  Jangan-jangan kang Zam mau bikin jengjengTV juga? 😆

Dan akhirnya terkuak sudah dapur yang memproduksi dan menghias chanel #12 layar tv saya. Di TV kang mas mbak yu sekalian, stasiun tv yang ini ada di nomer berapa?