Blog

Blog Plat Merah

Ternyata bukan hanya kendaraan dinas saja yang berplat merah. Kapling villa baru saya disana atau yang dikapling sebelahnya juga disponsori oleh lembaga pemerintah yang menangani perguruan tinggi. Mau tau ceritanya silahkan bertandang ke villa baru saya disana. Saya sudah berhasil meracuni niko yang tersesat sampai nico.dikti.net, bisakah saya meracuninya untuk berpindah menggunakan engine wordpress? Kita tunggu saja.

Selamat mencoba!

 

Advertisements

Inspirasi, datang atau dibuat?

Sebuah komentar dari seorang sahabat siang ini membuat saya balik bertanya, sebenarnya Inspirasi itu datang dengan sendiri, tiba-tiba atau kita yang menciptakan inspirasi? Bisa keduanya ada dalam diri kita. Mengapa? Karena inspirasi pada dasarnya adalah sifat ke dalam dan keluar. Ke dalam, inspirasi itu datang dengan tiba-tiba di tempat yang tidak di nyana-nyana. Ke luar, andalah inspirator untuk orang lain. Percaya atau tidak semangat itu bisa menular, jangankan semangat menguap saja bisa menular.

Kompas : Menurut Prof. Provine dari Maryland, AS, ketika orang menguap di depan kita, maka tubuh kita akan bereaksi, mengatur dirinya sehingga kita dipaksa untuk menguap.

Menulis sebagai kebutuhan

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa tidak untuk kita tinggalkan atau lewatkan. Misalnya makan, minum, bernafas, bersosialisasi dengan orang lain, dsb. Apa yang terjadi ketika tiba-tiba kita berhenti makan, minum atau bahkan bernafas? Lapar, haus atau mati bukan? Nah demikian juga apabila kita sudah menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Anda merasa gelisah dan ada sesuatu yang tidak sreg akibat tidak menulis paling tidak di blog atau secarik kertas? Selamat, berarti anda telah menjadikan menulis sebagai kebutuhan.

Kembali ke inspirasi, ketika kita lapar, haus akibat tidak makan dan minum bisa saja yang tidak suka makan ketela pohon mendadak jadi terpaksa suka karena memang ketela yang bisa menolongnya dari keadaan lapar. Atau ketika haus, yang biasanya anda jijik dengan air mentah tiba-tiba saja terpaksa minum air keran. Demikian juga dengan menulis, ketika merasa inspirasi tak mau datang, ya jangan di tunggu sampai inspirasi itu datang. Coba saja amati sekeliling, pasti ada bahan untuk diceritakan dalam tulisan. Contoh, ketika saya ditilang pak polisi, atau cerita tentang toilet.

Banyak membaca

Guru besar saya membeberkan sebuah rahasia: “Syarat utama menjadi penulis besar adalah rajin membaca.” Tidak hanya membaca buku, koran tetapi juga bisa membaca apa yang ada disekelilingnya. Dengan membaca fenomena sekeliling kita, inspirasi itu akan dengan mudah menghampiri kita. Yang paling sulit adalah menjadikan diri kita untuk mencoba sama dengan contoh, tidak mungkin bisa sama. Sadari semua bersifat unik, karena saya adalah saya, saya suka jalan-jalan tapi saya tidak bisa seperti pejeng-jeng yang suka ndoyok. Menjadi diri sendiri adalah yang terbaik.

Kalau tidak suka membaca bagaimana? Ya semoga saja masih suka googling atau rajin bertanya pada paman google. Atau bisa langsung belajar sama Budi Putra atau bisa mengunjungi kliping artikel tentang bagaimana menjadi seorang penulis.

Menulis itu menguntungkan

Ketika saya mengikuti sebuah workshop bersama Onno W Purbo, beliau share mengapa dia berhasil menelurkan begitu banyak judul buku praktis tentang IT. Tidak lain karena dari menulislah salah satu cara beliau bisa menghidupi keluarga. Bayangkan ketika beliau berhenti menulis, bagaimana kehidupan keluarganya?

Mengapa yang seperti ini tidak kita coba? Kalau yang lain bisa, kita juga bisa meskipun kita tidak mungkin mejadi mereka dan cukup hanya sebagai seorang wartawan kagetan™ saja.

Tidak ada kata terlambat untuk menulis, kalau sekedar untuk menulis di blog, saya sangat menyarankan tanyakan sama ahlinya blogger. Belum tau bagaimana cara menemui mereka? Mudah sekali, datang saja ke PestaBlogger2007, Muktamar Blogger 1428H yang diselenggarakan di Jakarta. Terlalu jauh? Untuk yang di Jogja dan sekitarnya bisa menghadiri Blonjo Kupat, sebuah acara halal bihalal Blogger Jogja dan sekitarnya. Temukan inspirasi anda disana!

Jangan Lupa “Blonjo Kupat”

Tidak bisa datang ke Jakarta dalam rangka PestaBlogger 2007? Hmm, saatnya untuk menuliskan besar-besar pada angka 27 di bulan Oktober ini untuk acara Blonjo Kupat -Bloggernya Jogja Ngaku Lepat-, acara yang juga merupakan ajang halah bihalal dan syawalan blogger Jogja dan sekitarnya ini hanya untuk memberikan wadah kepada teman-teman blogger yang tidak bisa berangkat ke Jakarta. Tetapi diharapkan, yang hadir di “Blonjo Kupat” juga dapat merasakan atmosfir PestaBlogger 2007 di Jakarta.

Acara yang digagas oleh anto, didit dan zam ini rencananya akan menggunakan video conference yang akan menghubungkan diri dengan beberapa rekan-rekan blogger yang berada di Makasar dan Surabaya. Saya sedikit minder ketika saya adalah satu-satunya wartawan sebuah media yang diundang dalam sidang dadakandotcom di Manut cafe malam itu 😀

Jadi tidak ada alasan kehabisan tiket mudik bagi blogger yang merasa masih berada di kawasan Yogya dan sekitarnya untuk menghadiri acara tersebut. Akhirnya, saya ucapkan “Sampai jumpa di Blonjo Kupat” di Yogyakarta pada Sabtu, 27 Oktober 2007.

Tumpeng

Hari minggu kemarin ini, CahAndong merayakan 1st anniversary. Ajang seperti ini pun tak cuma sekedar untuk bertemu di dunia nyata tapi juga untuk belajar paham narsisme yang mungkin tidak dimiliki blogger yang lainnya ketika foto dengan gaya itu-itu saja bahkan berpose seakan-akan mau foto setengah badan.

Well, bukan itu yang ingin saya bahas disini. Dari sekian banyak menu yang ada, saya tertarik pada nasi yang dibentuk mengerucut dan dikelilingi dengan berbagai macam makanan. Ulang tahun, peresmian gedung, tasyakuran biasanya tak luput dari kehadiran makanan yang biasa disebut tumpeng ini.

Saya juga tidak akan membagikan resep bagaimana cara membuat nasi tumpeng yang lezat, meskipun saya tidak ikut ngrahapi tumpeng dalam acara kemarin -karena harus segera merapat ke pagelaran kraton Yogyakarta untuk sekedar melihat salah satu budaya jawa– paling tidak saya percaya tumpeng yang dibawa mbak Unai ini mak nyooosss rasanya.

Filosofi tumpeng

Meskipun saya ini bukan seorang filsuf tapi dulu saya pernah punya guru hebat. Selain guru di kelas beliau juga mengajarkan tentang filsafat, termasuk filosofi tentang tumpeng ini.

  1. Bentuk yang mengerucut sepengetahuan saya yang namanya tumpeng bentuknya selalu kerucut, meskipun dasaran/nya dapat diberikan berbagai macam bentuk. Bentuk ini menggambarkan sebuah kegotongroyongan stakeholder untuk mencapai visi dan misi yang disimbolkan dengan pucuk tumpeng (biasanya ditaruh cabe di atasnya) dengan asas kebersamaan. Jadi sudah jelas organisasi masa dimanapun harus selalu mengedepankan kebersamaan, kegotongroyongan untuk mencapai tujuan.
  2. Paduan berbagai macam sayuran/lauk disekelilingnya Seperti yang sudah dijelaskan dalam ayat satu (keseringan kena pasal-nya pak pulisi jadi latah kata ayat), bahwa peran serta stakeholder sangat berperan dalam tercapainya tujuan sebuah organisasi. Berbagai macam sayuran yang ada di sekeliling tumpeng menggambarkan keanekaragaman masing-masing individu dengan latar belakang dan karakter yang majemuk.
    Meskipun kadang merasa ada orang lain dengan kelakuan yang aneh dan beda dengan manusia yang lainnya, tapi tanpa kehadirannya rasanya jadi beda. Nah disinilah pemaknaan dari sayuran dan lauk yang ada. Semua saling membutuhkan dan saling melengkapi.
  3. Mengapa harus dipotongNah ini yang menjadi pertanyaan mengapa tumpeng harus di potong? Capek-capek di bentuk sedemikian rupa kok akhirnya ya dipotong juga. Perlu diamati, biasanya pemotongan dilakukan oleh orang yang berpengaruh dan diserahkan kepada perwakilan stake holder. Ini menggambarkan bahwa visi, misi dan tujuan yang dilambangkan puncak tumpeng bukan tanggung jawab seorang pemimpin saja tetapi orang-orang yang menjadi bagian di dalamnya juga.

Akhirnya, sebagai pribadi saya mengucapkan selamat kepada CahAndong, yang telah merayakan milad pertamanya pada tujuh Oktober yang lalu. Sukses dan tetaplah jaya udara dan jaya di darat dengan kopdar dan kegiatan-kegiatan sosialnya.

Kesuksesan CahAndong semata-mata bukan ketika memberikan SHU yang besar kepada anggota semacam koperasi tetapi ketika CahAndong bisa bermanfaat dan berguna bagi orang lain, bahasa KR-nya “Migunani tumraping liyan”.

***

Ngomong-ngomong soal ulang tahun, pertanyaan yang tak kalah menarik adalah mengapa dalam acara ulang tahun harus ada tiup lilin bahkan di awal sudah dinyanyikan “Panjang umur”? Padahal bagi yang menganut ajaran/ilmu tertentu mereka justru harus menjaga nyala api lilin di atas air dalam baskom tetap menyala agar bisa kembali dengan selamat –cmiiw-.