Month: January 2008

Andakah Pemilik Bekisar Selanjutnya?

Hari ini saya, membaca beberapa bloger yang bercerita tentang Bloger Bekisar, meskipun jumlahnya belum ada apa-apanya dibandingkan jumlah tulisan meninggalnya H.M Suharto yang mendominasi blogsphere dan layar tipi. Tetapi ya ndak apa-apa, kalo berharap Bekisar bisa nongol di tipi, nunggu ada reporter tipinya ngeblog dulu mungkin kali ya hehehehe…

Seperti blonjo kupat oktober lalu, saya akan menuliskan cerita bagaimana ada bekisar yang bisa menetas diantara bloger jogja.

Kalau biasanya ayam akan menetas setelah dierami 21 hari, telur bekisar ini cukup dierami cukup 10 hari.

18 Januari 2008

Pada kopdar jumat malam itulah gagasan bersih-bersih pantai ditelurkan. Mereka yang membidani keluarnya telur ini adalah antobilang, amma dan cowoknya adiknya, zam, kang Gandung, Funskhit, Sandal, Ekowanz, Alex, Rudy Gunawan, Leksa, Tikabanget dan saya, semoga ga ada yang terlewatkan dalam daftar hadir.

19 Januari 2008

Pemilik gagasan pun langsung menuliskan sebuah ide sosial, dan ternyata cukup efektif untuk mencari sandal bekas, melihat banyaknya ditemukan sandal bekas dalam acara tersebut entah disengaja atau bukan.

20, 21, 22 Januari 2008

Menteri urusan Kopdar Kabinet Jengjeng Bersatu, memberikan siaran pers melalui blognya dan meresmikan bannernya. Dan menuliskan mengapa dinamai Bloger Bekisar dan alasan diadakan acara ini dua hari berturut2 setelah siaran pers.

24 Januari 2008

Dukungan bloger untuk acara ini mulai dapat dirasakan atmosfirnya. Tidak tanggung-tanggung sebuah armada bus dibajak disewa untuk mengangkut bloger yang tidak membawa sepeda motor. Meskipun pada akhirnya sampah hasil perburuan juga ikut masuk ketika pulang dari Pantai Pandansari, hehehehe

skip, skip, skip… banyak kopdar pendukung yang tidak saya ikuti dari pada saya salah tulis mending ndak saya tulisken disini.

26 Januari 2008

Menteri keuangan pun kemudian membentuk bloger KORUP (Komisi Urusan Pangan) dalam acara Bloger Bekisar tersebut, yang beranggotakan sandal, antobilang, Zam, funkshit dan saya. Tenang sodara-sodara tidak ada yang korupsi diantara kami, kami selalu patungan untuk acara makan siang dan makan malam dan menggunakan uang kami sendiri. Kalo ndak percaya bisa dilakukan audit, kalo perlu KPK juga diundang.

Jajaran Bloger KORUP sedang mejeng nunggu SPG pulang kerja

27 Januari 2008

Hari yang dinanti pun tiba, pelataran benteng Vredeburg ramai dengan orang-orang yang sedang menikmati hari libur mereka. Saya yang menjanjikan akan mengikuti penambangan vitamin A (baca: cuci mata) pun gagal datang jam 6 pagi. Konyolnya selain bangun kesiangan, saya juga harus pergi ke ATM karena sampe SPBU lupa ndak bawa uang sepeser pun padahal bensin sudah terlanjur masuk ke tangki motor, fyuuuh….

Akhirnya sekitar jam 10 kami sampai di pantai. Setelah memastikan kondisi sepeda motor orang nomor satu di Kasultanan Ndoyokarto Hadiningrat (baca: Zamroni) yang mendapatkan musibah ban bocor ditengah rute pendoyokan (ini salah satu pemerkosaan bahasa bukan?).

Acara dipantai bagaimana? Ya seperti yang direncanakan acara bersih-bersih pun dimulai. Dan hampir 30 orang bloger turut membidani menetasnya telur bekisar.

Kami sadar apa yang kami lakukan bukanlah apa-apa. Paling tidak kami sudah menetaskan satu bekisar di Yogyakarta. Selanjutnya tinggal ditunggu saja akankah bekisar-bekisar yang lain juga akan menetas di Indonesia.

Saya mewakili Pemerintahan Kabinet Jengjeng Bersatu Kasultanan Ndoyokarto Hadiningrat, mengucapkan terima kasih kepada insan bloger yang sudah memberikan dukungan dalam acara ini, baik yang turut terjun langsung dalam acara, dukungan moral dan materi ataupun yang sudah berkenan memberikan doa.

Saya yakin tidak akan ada alamat blog kita dalam buku sejarah anak cucu kita kelak, tapi saya yakin apa yang telah kita lakukan akan dicatat oleh malaikat juru catat amal baik.

Pastikan, anda adalah pemrakarsa Bloger Bekisar selanjutnya, di pantai-pantai kesayangan anda!

Warung Tenda Kolonel Ituh

Siapa yang tidak kenal seorang balibul yang ada dibalik blog colonelseven. Dia jugalah dulu yang mengangkat sebuah event yang beken dengan nama muktamar Bloger waktu jaman rame-ramenya pesta bloger di ibu kota sana.

Saya tidak tau apakah tulisannya dialog tentang saran kepada ibu itu adalah benar adanya. Hanya bedanya hewan yang di jual beda antara praktik di lapangan dan yang ada dalam perbincangan itu.

Kemungkinan lain adalah sang kolonel mengganti daging Bebek, menjadi Daging Kambing setelah dia mengikuti penyerahan kambing dalam kegiatan sosial Bloggers for Bangsari.

Mengapa kok tiba-tiba saya nulis tentang Balibul? Karena saya ada rasa sama dia? Ohh… jelas bukan, saya masih normal dan bukan pecinta sesama jenis. Tulisan ini terpublish dengan suksesnya karena disaat kondisi saya yang ngambang bin bimbang pulang dari sawah, menjumpai sebuah warung tenda yang di bilangan babarsari Yogyakarta.

Ada yang tau dimana letak warung tenda balibul 1?

Maaf, gelas saya penuh

Seperti memori dalam sebuah komputer yang memiliki kapasitas terbatas, begitu juga kita manusia yang dikarunia sebuah organ yang juga berfungsi sebagai penyimpan memori bernama “otak”.

Seperti komputer yang kadang sampai hank, tidak dapat digerakan kursornya karena memori penuh demikian juga manusia.  Beban yang begitu berat dan banyak membuat pikiran saya sedikit kacau.  Mungkin ini kesalahan saya karena saya menganggap apa yang sudah menjadi kewajiban saya sebagai beban. 

Niatnya saya enjoy dan berfikir secara slow, tetapi tidak bisa jika tugas datang bertubi-tubi dan tidak sedikit berakibat pada tekanan mental yang teramat sangat dahsyat. 

Bagaikan gelas, saat ini saya adalah gelas yang hampir terisi penuh dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi saya.  Saya pingin melepaskan isi gelas ini, tetapi apa daya, tidak ada gelas lain  yang mau diajak berbagi.  Saya tidak mau menjadi gelas yang serakah dengan menampung “isi” terlalu banyak, sampai luber yang isinya membasahi mana-mana, mubazir katanya.

Kalau gelas saya isinya es cendol, air teh atau sekedar air putih itu nikmat sekali, tetapi bagaimana jika isinya pekerjaan dan tugas kuliah bir yang sangat memabukkan.

Saya ingin melepas tahta tanggung jawab ini, tetapi kepada siapa saya musti mengadu untuk melapaskannya?  Saya rela meninggalkan kursi empuk dengan banjir bandwith  ini asalkan saya bisa sedikit mengosongkan gelas yang hampir penuh ini.   Apa saya harus berpindah ke meja sebelah?  Siapa tahu disana saya bisa menjadi gelas yang setengah kosong dan bisa lebih menikmati hidup, meskipun akibatnya saya harus menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Malam ini, saya musti berangkat ke “kawah condrodimuko” niatnya untuk menimba ilmu.   Semoga tidak ada yang mengisi gelas saya lagi dengan cairan berwarna putih yang terlihat seperti susu tetapi ternyata bukan, hanya air tajin (air yang ada pada saat menanak nasi) yang jauh dari bergizi katanya.  Ya, saya masih terbebani tugas-tugas akhir semester.  Kalau ada mahasiswa yang bilang, dosen adalah penentu nasibnya, mungkin saya berbisik mengamini meskipun di hati saya sangat mengamini penentu segalanya adalah Dia Yang Maha Berkehendak.

Maaf, gelas saya penuh. Ke gelas yang lain saja. Duh Gusti, paringono kawulo kesabaran, jembar atine lan dowo ususe. Amin.

Hidup Untuk Pilihan

Life is choice katanya. Tetapi pada dasarnya (kualitas) hidup ini dibangun dari hari ke hari. Takdir memang tidak bisa diubah karena itu memang sudah keputusan Yang Maha Esa, tetapi kita masih bisa mengubah nasib.

Ibarat kita berada dalam sebuah jalan bercabang yang belum pernah kita lalui. Disana ada papan petunjuk yang menunjukkan arah dan tujuan masing-masing cabang.

Ambil contoh di sekolah saya dulu ada sebuah papan petunjuk yang menurut saya kita turut menentukan nasib kehidupan bagi siapa-siapa yang pernah ada didalamnya dari papan petunjuk tersebut.

  1. Lapangan
    Tempat ini seperti pisau bermata dua. Dari segi positif lapangan adalah pusat kebugaran, dimana kita bisa berolahraga dan sekedar menyalurkan hobby. Tapi dari segi negatifnya dari lapangan ini pernah terjadi gontok-gontokan karena ada yang kalah dalam pertandingan sepakbola.
  2. UKS
    Tempat ini pada hakikatnya menjadi puskesmas-nya sekolahan, tapi apa boleh buat ketika ada yang datang bener-bener sakit, enggan masuk ruangan karena dipake tempat pacaran anak-anak yang lain. Parahnya lagi, disinilah anak-anak yang parno sama guru Kimia, Matematika atau Bahasa Inggris menyelamatkan diri dengan dalih kondisi badan yang sedang tidak enak (=sakit) 😀 (saya jadi inget pejabat yang mendadak sakit ketika mau diperiksa tim kejaksaan).
  3. Perpustakaan
    Sudah tidak usah diragukan lagi, tempat ini adalah tempat para cendekia muda nongkrong memperdalam ilmu kanuragannya pengetahuan mereka. Meskipun ada juga yang terpaksa datang ke perpustakaan karena ‘target’ juga sering main di perpustakaan.
  4. OSIS
    Mau belajar jadi pemimpin, manager keuangan atau diplomasi mungkin ini dapat sedikit membantu. Meskipun kadang di blacklist sama salah satu guru karena sering meninggalkan kelas itu sudah jadi risiko, tetapi tak jarang ada guru yang berpihak kepadanya.
  5. Bimbingan Konseling (dhl. BP)
    Inilah MABESPOL (Markas Besar Polisi) Sekolah. Sampean gemar:

    • adu jotos,
    • kedapatan bawa rokok atau malah ngrokok,
    • membawa hal-hal yang berbau pornografi,
    • rambut gondrong atau dicat,
    • pelanggan setia ngurus ijin terlambat dengan alasan “Transportasi”, “Bangun Kesiangan”,”Nganter ibu ke pasar” atau malah “Ikut mbantu nggali liang kubur tetangga yang meninggal”,

    disinilah tempat penyelesaian masalahnya. Jelasnya disini tidak ada jalur damai, semua harus di proses sesuai dengan hukum yang berlaku.

    Tetapi tidak selamanya yang buruk-buruk harus berurusan di ruangan ini, ada juga orang pinter pake kacamata tebal, atau cewek dengan rambut kuncir dua kalo ngurus beasiswa juga disini tempatnya. Termasuk yang ngurus beasiswa dari Yayasan Semarsuper, eh Supersemar yang dulu diketuai oleh Bapak H.M Soeharto.

  6. Showroom
    Ini bukan showroom mobil atau apa, tetapi ruang pameran. Disini sampean bisa narsis dan unjuk gigi “ini baut buatan saya lho, keren kan…”
    Jadi lebih tepatnya kalo mau pamer ya silakan mampir di ruangan ini.
  7. Masjid
    Sudah jelas, disinilah tempatnya orang kembali ke “nol”. Semua aktifitas hanya ditujukan kepada-Nya. Kalo sudah sampe sini bingung mo nulis apa, karena semua sudah jelas.

Lantas apa hubungannya dengan kehidupan kita? Ya saya yakin bahwa selama kita hidup, pilihannya ndak cuma ada 7 seperti di atas. Jelas pilihannya semakin ruwet dan njlimet. Kita harus pinter-pinter memilih mana jalan yang layak kita lalui. Salah-salah bisa terjerumus dalam aliran sesat yang sangat menyesatkan.

Terlalu banyak pilihan, membuat kita beralih pilihan untuk hidup atau hidup untuk pilihan? Ya seperti memilih Hidup untuk makan atau makan untuk hidup itu selera masing-masing.

Kalo mau maruk dan penasaran, saya sarankan cobalah semuanya. Layak untuk dipertimbangkan dan dipikirkan kembali kata-kata yang pernah muncul di iklan minyak kayu putih “buat anak hidup kok coba-coba“. Tetapi sekali lagi bahwa Takdir itu kehendak Yang Maha Kuasa, kita hanya sak dermo nglakoni (sekedar melaksanakan–jawa) apa yang sudah menjadi skenario-Nya.

P.S. : Bahwa menanggapi usulan beliau Kanjeng Sinuhun Sultan Ndoyokarto Hadiningrat yang mengusulkan “Bloger of the month” maka dengan menambahkan warna hijau dalam foto dalm tulisan ini saya awali (niatnya) mengikuti style sodara Pepeng. Mau tehe alasannya? Niatnya sih biar biar dia bawa softdrink satu truk pas acara bloger bekisar besok Minggu 😀

Salam

Annots
eScoret

Buku vs HaPe

Miris, mungkin itu yang bisa simpulkan setelah membaca salah satu isi surat pembaca di surat kabar harian di jogja beberapa hari yang lalu. Program pendidikan gratis yang banyak dijanjikan pada saat kampanye Pemilu pun sepertinya memang sulit untuk terwujud. Tetapi saya tidak akan membahas dari sisi politik, karena semestinya sodara Gun yang lebih pantas menyoroti. Apa pasal? Beliau memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan khasanah politik selain merangkap menteri urusan dakwah kasultanan nDoyokarto Hadiningrat.
Berikut ini adalah cuplikan dari surat pembaca yang saya maksud. Bagaimana menurut sampean, ketika seorang pelajar kepincut untuk memiliki HP? Wajar, karena memang ini sedang trend. Ndak punya HaPe bisa jadi pusat olokan katrok/ndeso, basbang, dsb.
Okelah HaPe adalah trend, tetapi bagaimana jika pelajar tersebut rela menyisihkan uangnya hanya untuk membeli HaPe, padahal untuk membayar buku di sekolah saja kurang?
Tulisan pembaca seperti itu mungkin tidak akan pernah muncul di koran-koran jika janji-janji yang mulia wakil rakyat di parlemen sana menepati janji nya untuk mewujudkan pendidikan/sekolah gratis.
Apa yang musti kita lakukan? Ada beberapa opsi untuk menjawab surat tersebut. Menurut saya:
  1. Sadarkan dia, bahwa punya HP itu hukumnya ndak wajib
    Tidak harus punya, toh masih bisa pinjam temennya kalo cuma sekedar untuk misscall atau sms. Punya HP itu tidak berhenti disini saja, tetapi juga mesti menafkahi lahir berupa listrik , dan nafkah batin berupa pulsa.Kalau tidak mau dicerai oleh HP karena mengadu ke pengadilan agama toko HP atau pegadaian dengan alasan tidak mendapatkan nafkah lahir dan batin. Semua memang berisiko bukan?
  2. Gratiskan buku di sekolah Indonesia,
    Tetapi kabar buruknya putusan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki pengaruh yang sangat kuat di negeri ini. Jadi opsi ini sangat kecil kemungkinan bisa terwujud.
  3. Bantu dengan doa
    Ndak ada salahnya turut serta mendoakan semoga efek dari menulis surat pembaca itu terkabul. Kalo memang cuma bisa mbantu doa ya ndak masalah, syukur-syukur bisa mbantu transfer pulsa jika kelak dia memiliki HaPe. Atau justru hati sampean terketuk untuk merelakan HaPe sampeyan pindah tangan ke pelajar tersebut?