Ngintip dapur TV lokal

Tadi siang, saya berkesempatan blusukan ke dapur salah satu televisi lokal yang berpusat di Yogyakarta. Blusukan kali ini masih dalam rangka kunjungan media yang diselenggarakan oleh LPJB (Lembaga Pelatihan Jurnalistik Bernas). Kebetulan saya di-dapuk untuk mengikuti pelatihan jurnalistik oleh atasan ditempat saya menghabiskan waktu untuk blogwalking bekerja.

Sebenarnya sudah sejak September atau semenjak saya didaulat sebagai wartawan kagetan™ sudah ada di komunitas LPJB, tetapi dua acara terakhir ini membuat saya lebih antusias dari pada saya harus duduk di belakang meja dan mendengarkan mentor yang berdiri di depan kelas.

Usut punya usut, ternyata efek dari aktifitas jeng-jeng yang di-doktrin-kan ke saya oleh pakar jeng-jeng beserta jurkam (juru kameranya) telah berhasil merasuki hingga alam bawah sadar saya. Istilah ndoyok atau jalan-jalan dan blusukan ke tempat-tempat yang sebelumnya sudah atau belumpernah dikunjungi makin beken saja di otak saya.

Kembali ke TV lokal tadi, setiba di kantor redaksi kami disambut senyum manis wanita yang sangat casual dan tidak mboseni baik dari sisi penampilan ataupun gaya bicaranya. Mbak Widi namanya. Dari mbak ini juga saya jadi tau pilar yang dijunjung dan diangkat sebagai konten utama tv tersebut: budaya, pariwisata dan pendidikan.

Dari tiga pilar tersebutlah saya menitipkan pesan untuk disampaikan ke direktur dan komisaris jangan seperti tv yang katanya TV Pendidikan Indonesia tetapi berubah haluan ke jalur siaran yang hampir tidak ada bau-bau pendidikan di jadwal acaranya. Bisa jadi karena mengkuti trend yang diangkat oleh tv swasta yang lain sehingga kebijakan pimpinan untuk banting stir ke acara-acara “seleb instan”, musik dangdut, sinetron, dll.

Jogja TV

Sejujurnya saya lebih suka acara telivisi yang lebih banyak mengangkat budaya ketimbang kontes “seleb instan” lebih-lebih sinetron -meskipun dulu saya sempat gandrung sinetron Tersanjung 1 – till drop, Tersayang, Tercinta dan Ter-ter yang lain- yang semakin lama semakin membodohi penonton dan njelehi.

Yah kalo tv di ibaratkan blogger ya seperti kang matriphe yang istikomah dengan mengangkat kearifan budaya Indonesia melalui candi, makanan, dll.  Jangan-jangan kang Zam mau bikin jengjengTV juga?😆

Dan akhirnya terkuak sudah dapur yang memproduksi dan menghias chanel #12 layar tv saya. Di TV kang mas mbak yu sekalian, stasiun tv yang ini ada di nomer berapa?

34 comments

  1. @atas..
    mas anot ini bunglon kok.. bisa berubah jadi apa aja😀

    horee.. mas anot keliatan paling tinggi di poto ..xixiixixi
    mbak widi nya yang mana ? yang pake baju biru n tas hitam ya ?

  2. mohon dukungannya untuk peluncuran stasiun JengJengTV, dengan slogan mendoyokkan masyarakat dan memasyarakatkan ndoyok..

    wakakakaka..

    ingat, di chanel 92,5 FM!

    wekekekekek

  3. hng…. saya gak cuman pengen masuk ke studio tivi.. tapi saya pengen masuk tivi! sayang, tivi saya gak ada lubang yang muat buat saya masuki…

  4. ndak sampe daerahku ik bro, padahal ungaran khan cedhak mbek jogja ya..😦
    tapi btw, baca postingan ini,pengen rasane mlebu blusuk2 tipi lokal kek misale cakratipi semarang gitu

  5. disini juga ada tv lokal bagus acaranya banyak tentang budaya dan jalan2x , elshinta tv, sayang acaranya masih diulang-ulang terus sampe hapal saya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s