nJawani

Kultur masyarakat jawa yang kental dengan mengedepankan sopan santun dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari mungkin sudah jarang bisa kita temui dalam realita perjalanan hidup kita saat ini, baik dalam cara berbusana maupun berbicara.

Memang sedemikian dahsyatnya penjajahan kultur yang mengatasnamakan modis, gaul, dsb yang mampu mengikis budaya masyarakat Indonesia, yang katanya budaya timur. Entah disengaja atau tidak produk fashion yang beredar saat ini berawal dari salah design, kegagalan produksi karena kurang bahan atau memang ada unsur alasan yang lain?

Filosofi “ajining diri soko ing lathi, ajining rogo soko busono” yang dulu sering dituturkan oleh eyang dan bapak saya hanya bisa dikenang dan terkesan seperti slogan semata. Ada orang yang masih menjunjung tinggi budaya jawa, tetapi lebih banyak yang perlahan mulai melirik dan bergeser ke budaya atau pura-pura kebarat-baratan.

Berpakaian ala kadarnya

Berpakaian ala kadarnya, bukan berarti harus pake baju punya adiknya seadanya. Menurut hemat saya baju yang di pajang di butik (yang saya kira adalah deretan pakaian anak-anak itu) ternyata harganya ga semurah karena penghematan bahannya. Jadi kalo dipandang dari segi penghematan uang sdepertinya kok ndak masuk akal.

Cobalah kita tengok jauh ke belakang, kalo dilihat apakah baju simbahnya eyang buyut kita (=kebaya) tidak kalah seksinya ketimbang baju-baju yang irit bahan itu kan? Atau kalau mau lebih seksi dari tank top gunakan saja kemben, semuanya lebih njawani bukan. Semua malu ketika harus menggunakan, kecuali terpaksa untuk acara wisuda takut alasan yang klasik takut dibilang kuno, ga’ modis, katrok.

Jawa akankah tenggelam?

Semalam, saya ngobrol dengan sodara teman saya yang kebetulan masih duduk dibangku SMU. Dia menceritakan bahwa hari ini ujian Bahasa Jawa, dan dia mengeluh kalau dia takut nilainya jeblok karena dia tidak fasih berbahasa jawa.

Q : “Boro-boro mas nulis aksara jawa, bahasa jawa aja aku grathul-grathul”
A : “Dulu aku juga pernah bisa nulis aksara jawa, tapi sekarang dah lupa😀 ”
Q : “Wo lah, besok pas ujian kalo aku ga bisa aku sms kamu yo mas”
A : “Oh ya gpp, tapi kayaknya keypad HP ku ga support aksara jawa deh😆 ”
Q : “Alesan… !@#$%^”

Sepenggal dialog saya semalam semakin jelas menggambarkan betapa budaya jawa (Indonesia juga) bisa hilang di tanah air dan oleh orang yang hidup di dalamnya. Jadi tidak heran kalau kelak kita juga ribut-ribut ada yang mengklaim aksara java jawa sebagai warisan budaya negara lain.

Kalau sudah begini semua sibuk menyalahkan dan mencari kambing hitam untuk berkurban tgl 20 bulan ini. Sodara mau menyalahkan siapa?

12 comments

  1. itulah Nots, kita yang orang jawa aja banyak yang gak pandai bahasa jawa. Nanti kalo bahasa Jawa diambil oleh malingsia lagi, baru kita belajar..PRIFAT

  2. @Funkshit
    dan tidak selalu dan atau selamanya kambing itu berjenggot kan?

    @mysyam
    waduh paklik, yen aku posting boso jowo meh mosting opo iks? Kamus boso jowoku ndak ada e

    @aprikot
    misuh-misuh marahi mumet maksute?

    @celo=3
    Hmmm, Indonesia masih dari sabang sampe merauke kan?

    @caplang™
    belajarlah dengan Ajisoko

    @unai
    saya prifat ke mbak Unai saja ya

    @uthie
    pasti simbah2 tetangga kamu itu suka miss komunikasi kalo ngomong sama kamu😀

    @The Sandalian
    *ngambil brosur* ga ada yang buka Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet tuh kang?

    @detnot
    pake beskap, blangkon plus keris sekalian saja bung

    @didut
    Di, mau tak kasih kambing hitam?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s