Month: December 2007

Terompet

Karena terompet tidak sama dengan kondom…..

–annots–

Sudah beli terompet untuk malam ini? Bukan hanya kalender yang selalu di buru tetapi terompet juga banyak diminati. Tidak tahu mengapa tahun baru indentik dengan terompet, kembang api seperti natal dengan salju dan pohon cemara atau lebaran dengan ketupatnya

Terompet tidak sama dengan kondom yang sekali pake terus buang, jadi simpan terompet yang dipake malam ini dan pake lagi tahun depan. Bukankah demi menyelamatkan “Global Warming” -yang melulu disalahkan ketika bencana alam datang- salah satunya dengan menghemat penggunaan kertas dan tisu?

Ah saya ga ada anggaran untuk beli terompet (baca: tanggal tua). Boro-boro beli terompet, acara perpisahan dengan tahun 2007 pun belum ada rencana.

Saya termasuk yang gembira menyambut awal tahun baru karena selalu jatuh pada tanggal muda dan itu tandanya … gajian :mrgreen:

Bagaimana dengan persiapan tahun baru anda? Semoga sukses 😀

Pembantaian berencana

Kalo ditanya soal Liburan ala Blogger, jawabnya jelas takbiran sholat Ied, nyembelih kambing, makan-makan ala kurban, kemudian dilanjutkan hijrah ke Ibu kota.Pisah ranjang selama 6 hari dengan dashboard WP, membuat saya bisa menikmati kehijrahan saya ke kota metropolitan. Kepergian ke ibukota JELAS BUKAN karena menghindar dari kopdar beruntun yang di adakan di kota Gudeg ini.

Banyak cerita yang hampir lepas dari sel otak kalau saja tak segera di tambatkan di dermaga cerita yang berjuluk Blog ini. Dengan alasan ini juga maka saya akan menuliskan secara bersambung.

Penculikan berenca

Selasa, 18 Desember pukul 16.16 WIB, bersama sodara yang takut kambing meluncur ke daerah Sonosewu untuk menjemput korban, sebut saja bunga. Dengan awal yang tidak begitu manis karena saya harus tersesat ketika mencari rumah Didit. Dengan menggunakan sebuah mobil Kijang berplat merah, komplotan penculik pun menjemput seorang pelaku lainnya di daerah Ngabean.

Pukul 16.29 WIB, tiba di TKP langsung saja kami menjemput paksa bunga dengan perlakuan yang awalnya bersahabat namun tiba-tiba berubah menjadi sedikit brutal. Ya, bunga terpaksa harus di ikat dan digangbang angkut menggunakan mobil trayek dadakan milik Pemerintah (mobil plat merah –red).

Foto bersama korban di TKP

Untuk menghilangkan jejak, salah satu pelaku harus diantar pulang. Konyolnya, belum sampai markas besar, bunga meronta-ronta dan lepaslah semua ikatan yang ada di kaki-kakinya. Walhasil selama perjalanan saya harus membujuk rayu bunga agar tetap sopan, mengingat dia sedang di dalam mobil pemerintah, harus khidmat.

Mejeng bersama korban

 

Pembunuhan Berencana

Puas dengan Misi A, dilanjutkan ke misi B. Semua merapat di TKP untuk menyaksikan pelaksanakan pembantaian masal. Sadis memang, karena ditemukan kondisi korban dengan bagian terpisah. Diduga semua korban menjadi korban mutilasi oleh jagal berdarah dingin.

Dari sekian korban yang dibawa para agen, korban di bawah ini yang paling susah digiring ke TKP bersama korban yang lainnya, sebut saja mawar.

Dengan berlagak SASA (Sok Akrab Sok Asyik) saya bisikkan ke telinga korban “Jaminan masuk surga Nak!!” sambil menarik paksa tali yang mengikat di leher mawar.

Dan….

Innalillahi wa innailaihirojiun, telah pulang ke rahmatullah, bunga, mawar dan yang lainnya. Doa saya semoga kelak mereka bisa menjadi saksi pemiliknya, bahwa dia pemiliknya telah menyembelih (langsung maupun tidak) hawa nafsu yang (seharusnya ) tidak dimiliki manusia dan hanya dimiliki binatang. Dan dengan dagingnya, pemiliknya telah berbagi kasih sayang kepada sesama dengan membagi-bagikan kepada orang-orang di sekitar TKP.

Selamat jalan bunga, mawar dan yang lainnya. Maaf saya pun ikut menyantap daging kalian bersama orang-orang*) yang ada di bawah ini **).

*) Tidak termasuk yang menggunakan helm, karena sodara yang ini rada alergi sama bau parfum khas kambing 😀
*) Dua lagi yang belum terlihat, amma dan dipto (sedang membidik para pelaku)

Tulisan terkait:
Kurban Pertama Saya
Kurban Bersama CA
Iedul Adha di Alun-alun Utara

 

Bersambung sodara….

Selamat ulang tahun

Sebagai karyawan srabutan yang baik hati dan tidak pernah telat ngambil gaji saya mengucapkan selamat atas diselenggarakannya Dies Natalies ke-49 kampus disiplin, kejuangan dan kreatifitas. Yah meskipun saya ga dapet satu pun dari sekian banyak door prize, terlebih lagi grand prizenya yang berupa kambing, tapi paling tidak saya diajak sehat dengan acara senam pagi, jalan sehat dan salto (sarapan lawuh soto) ditambah tempe dan tahu bacem yang menggetarkan cacing-cacing di perut saya.

Dari awal acara saya nunggu temanteman seruangan kok tidak datang jua, yah dengan berat hati akhirnya jatah sarapan mereka saya embat juga. Maaf ya… 😆

Akhirnya , saya ucapkan Selamat Ulang tahun kepada UPN “Veteran” Yogyakarta yang ke-49 semoga semakin jaya. Ijinkan kawulo alit ini mengabdi meskipun saya pernah selingkuh dengan mengerjakan pekerjaan lain(baca: ngarit) karena himpitan ekonomi dan suka menggunakan sedikit jam kerja untuk refreshing blogwalking.

Sudahkah anda berterima kasih kepada tempat yang sudah memproduksi rupiah atau bahkan dollar ke rekening bank favorit anda?

Ngintip dapur TV lokal

Tadi siang, saya berkesempatan blusukan ke dapur salah satu televisi lokal yang berpusat di Yogyakarta. Blusukan kali ini masih dalam rangka kunjungan media yang diselenggarakan oleh LPJB (Lembaga Pelatihan Jurnalistik Bernas). Kebetulan saya di-dapuk untuk mengikuti pelatihan jurnalistik oleh atasan ditempat saya menghabiskan waktu untuk blogwalking bekerja.

Sebenarnya sudah sejak September atau semenjak saya didaulat sebagai wartawan kagetan™ sudah ada di komunitas LPJB, tetapi dua acara terakhir ini membuat saya lebih antusias dari pada saya harus duduk di belakang meja dan mendengarkan mentor yang berdiri di depan kelas.

Usut punya usut, ternyata efek dari aktifitas jeng-jeng yang di-doktrin-kan ke saya oleh pakar jeng-jeng beserta jurkam (juru kameranya) telah berhasil merasuki hingga alam bawah sadar saya. Istilah ndoyok atau jalan-jalan dan blusukan ke tempat-tempat yang sebelumnya sudah atau belumpernah dikunjungi makin beken saja di otak saya.

Kembali ke TV lokal tadi, setiba di kantor redaksi kami disambut senyum manis wanita yang sangat casual dan tidak mboseni baik dari sisi penampilan ataupun gaya bicaranya. Mbak Widi namanya. Dari mbak ini juga saya jadi tau pilar yang dijunjung dan diangkat sebagai konten utama tv tersebut: budaya, pariwisata dan pendidikan.

Dari tiga pilar tersebutlah saya menitipkan pesan untuk disampaikan ke direktur dan komisaris jangan seperti tv yang katanya TV Pendidikan Indonesia tetapi berubah haluan ke jalur siaran yang hampir tidak ada bau-bau pendidikan di jadwal acaranya. Bisa jadi karena mengkuti trend yang diangkat oleh tv swasta yang lain sehingga kebijakan pimpinan untuk banting stir ke acara-acara “seleb instan”, musik dangdut, sinetron, dll.

Jogja TV

Sejujurnya saya lebih suka acara telivisi yang lebih banyak mengangkat budaya ketimbang kontes “seleb instan” lebih-lebih sinetron -meskipun dulu saya sempat gandrung sinetron Tersanjung 1 – till drop, Tersayang, Tercinta dan Ter-ter yang lain- yang semakin lama semakin membodohi penonton dan njelehi.

Yah kalo tv di ibaratkan blogger ya seperti kang matriphe yang istikomah dengan mengangkat kearifan budaya Indonesia melalui candi, makanan, dll.  Jangan-jangan kang Zam mau bikin jengjengTV juga? 😆

Dan akhirnya terkuak sudah dapur yang memproduksi dan menghias chanel #12 layar tv saya. Di TV kang mas mbak yu sekalian, stasiun tv yang ini ada di nomer berapa?

nJawani

Kultur masyarakat jawa yang kental dengan mengedepankan sopan santun dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari mungkin sudah jarang bisa kita temui dalam realita perjalanan hidup kita saat ini, baik dalam cara berbusana maupun berbicara.

Memang sedemikian dahsyatnya penjajahan kultur yang mengatasnamakan modis, gaul, dsb yang mampu mengikis budaya masyarakat Indonesia, yang katanya budaya timur. Entah disengaja atau tidak produk fashion yang beredar saat ini berawal dari salah design, kegagalan produksi karena kurang bahan atau memang ada unsur alasan yang lain?

Filosofi “ajining diri soko ing lathi, ajining rogo soko busono” yang dulu sering dituturkan oleh eyang dan bapak saya hanya bisa dikenang dan terkesan seperti slogan semata. Ada orang yang masih menjunjung tinggi budaya jawa, tetapi lebih banyak yang perlahan mulai melirik dan bergeser ke budaya atau pura-pura kebarat-baratan.

Berpakaian ala kadarnya

Berpakaian ala kadarnya, bukan berarti harus pake baju punya adiknya seadanya. Menurut hemat saya baju yang di pajang di butik (yang saya kira adalah deretan pakaian anak-anak itu) ternyata harganya ga semurah karena penghematan bahannya. Jadi kalo dipandang dari segi penghematan uang sdepertinya kok ndak masuk akal.

Cobalah kita tengok jauh ke belakang, kalo dilihat apakah baju simbahnya eyang buyut kita (=kebaya) tidak kalah seksinya ketimbang baju-baju yang irit bahan itu kan? Atau kalau mau lebih seksi dari tank top gunakan saja kemben, semuanya lebih njawani bukan. Semua malu ketika harus menggunakan, kecuali terpaksa untuk acara wisuda takut alasan yang klasik takut dibilang kuno, ga’ modis, katrok.

Jawa akankah tenggelam?

Semalam, saya ngobrol dengan sodara teman saya yang kebetulan masih duduk dibangku SMU. Dia menceritakan bahwa hari ini ujian Bahasa Jawa, dan dia mengeluh kalau dia takut nilainya jeblok karena dia tidak fasih berbahasa jawa.

Q : “Boro-boro mas nulis aksara jawa, bahasa jawa aja aku grathul-grathul”
A : “Dulu aku juga pernah bisa nulis aksara jawa, tapi sekarang dah lupa 😀 ”
Q : “Wo lah, besok pas ujian kalo aku ga bisa aku sms kamu yo mas”
A : “Oh ya gpp, tapi kayaknya keypad HP ku ga support aksara jawa deh 😆 ”
Q : “Alesan… !@#$%^”

Sepenggal dialog saya semalam semakin jelas menggambarkan betapa budaya jawa (Indonesia juga) bisa hilang di tanah air dan oleh orang yang hidup di dalamnya. Jadi tidak heran kalau kelak kita juga ribut-ribut ada yang mengklaim aksara java jawa sebagai warisan budaya negara lain.

Kalau sudah begini semua sibuk menyalahkan dan mencari kambing hitam untuk berkurban tgl 20 bulan ini. Sodara mau menyalahkan siapa?