Lampiaskan Hasratmu

Masing-masing pribadi seseorang memiliki cara yang berbeda untuk melampiaskan hasratnya. Tulisan ini terilhami ketika saya terpaksa masuk kerja hari Minggu akhir bulan Oktober yang lalu untuk menghadiri undangan pengarahan tugas pengawas Tes Karyawan PT. Pertamina EP di kampus saya. Menjemukan memang, menunggu kawan-kawan yang lain. Ditengah kejemuan ini, saya nunggu di Pos Satuan Pengaman (Satpam). Tidak lama duduk disana, datang tiga orang pemuda yang tangannya kotor dengan cat putih. Entah dari mana dan apa yang baru saja mereka lakukan saya tidak tau. Setelah ada introgasi dari petugas kepada tiga pemuda ini saya baru mengerti bahwa mereka adalah sekelompok pelajar yang ketahuan melakukan aksi coret-coret di dinding kampus.

Sebagai hukumannya, mereka mendapat tugas untuk membersihkan tembok dengan cara menimpa coretan mereka sendiri dengan cat putih. Lagi pula apa bangganya bisa nulis di tembok orang? Kalo di bawahnya ada komennya trus bisa jadi seleb macam seleb blog yang selalu di kunjungi banyak orang sih ndak masalah, lha ini sudah bikin kotor, tidak ada bangganya -mungkin bagi mereka ada, tapi bagi saya ga ada- babar blas. Mending di eman-eman duit yang buat beli cat trus gabung sama SD Tumbuh.

Sama-sama mengeluarkan uang untuk beli cat, menguras tenaga juga mending bikin mural yang justru dapat menambah nilai keindahan kota. Seni melukis dengan obyek dinding, lantai sebagai pengganti kanvas ini dapat menggantikan coret-moret oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Tetapi memang jiwa seni dibutuhkan dalam seni mural ini, apalagi kalau gambar sekaligus ada sebuah pesan tertentu untuk yang melihat. Semuanya tergantung bagaimana cara menyampaikan pesan melalui goresan kuas.

Gendur : “Lha terus gimana untuk yang ndak mempunyai hasrat di bidang seni?”

Jati : “Ya mbantu ngamplas tembok sebelum dicat kan bisa Ndur.”

Beda orang beda pelampiasannya

Rabu (31/10) kemarin, saya bertemu dengan teman-teman redaksi tabloid bias -tabloid khusus pelajar SMA DIY- yang merayakan HUT ke-12 tabloid mereka. Sama-sama pelajar namun cara melampiaskan hasrat mereka sangat berbeda dengan yang pajang fotonya di paling atas itu. Mereka menuliskan semuanya untuk dimuat dalam tabloid kesayangan mereka itu. Justru dari sana mereka bisa mendapapatkan penghasilan kecil-kecilan sebagai reporter. Lebih membanggakan to ya?

Gendur: “Kamu kenal mbak-mbak yang ada di foto itu?”

Jati : “Hehe, belum semua tapi ya tunggu saja. Halah padune kamu ngiri ya kalo temen saya ABG semua?”

Maaf saya tidak menulis hasrat untuk ngicipi ayam kampus goreng dekat kampus, ataupun hasrat beli kijing, kalau itu Harakiri namanya.

11 comments

  1. @hedi
    lebih keren grafiti dari pada nama geng yang ndak jelas itu kan?

    @leksa
    pelampiasan saya? rahasia dong…. kalo itu rahasia dapur saya :p

    @&-ank
    anda benar….

    @zam
    kalau mau setiap sabtu kumpul di jl cendana jam 2 sore bung

    @sash
    setiap hari? Rajin kaliii….

    @funkshit
    kalo aku motret jalan raya sudah seperti liat funkshit kok *ditimpuk meja kampus*

  2. saya suka mural yang jelas dan bagus😀 bukan masalah kegunaan sih namanya juga pelampiasan yang penting hati bisa senang dan hepiii😀 mural kan masutnya ituu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s