Inspirasi, datang atau dibuat?

Sebuah komentar dari seorang sahabat siang ini membuat saya balik bertanya, sebenarnya Inspirasi itu datang dengan sendiri, tiba-tiba atau kita yang menciptakan inspirasi? Bisa keduanya ada dalam diri kita. Mengapa? Karena inspirasi pada dasarnya adalah sifat ke dalam dan keluar. Ke dalam, inspirasi itu datang dengan tiba-tiba di tempat yang tidak di nyana-nyana. Ke luar, andalah inspirator untuk orang lain. Percaya atau tidak semangat itu bisa menular, jangankan semangat menguap saja bisa menular.

Kompas : Menurut Prof. Provine dari Maryland, AS, ketika orang menguap di depan kita, maka tubuh kita akan bereaksi, mengatur dirinya sehingga kita dipaksa untuk menguap.

Menulis sebagai kebutuhan

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa tidak untuk kita tinggalkan atau lewatkan. Misalnya makan, minum, bernafas, bersosialisasi dengan orang lain, dsb. Apa yang terjadi ketika tiba-tiba kita berhenti makan, minum atau bahkan bernafas? Lapar, haus atau mati bukan? Nah demikian juga apabila kita sudah menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Anda merasa gelisah dan ada sesuatu yang tidak sreg akibat tidak menulis paling tidak di blog atau secarik kertas? Selamat, berarti anda telah menjadikan menulis sebagai kebutuhan.

Kembali ke inspirasi, ketika kita lapar, haus akibat tidak makan dan minum bisa saja yang tidak suka makan ketela pohon mendadak jadi terpaksa suka karena memang ketela yang bisa menolongnya dari keadaan lapar. Atau ketika haus, yang biasanya anda jijik dengan air mentah tiba-tiba saja terpaksa minum air keran. Demikian juga dengan menulis, ketika merasa inspirasi tak mau datang, ya jangan di tunggu sampai inspirasi itu datang. Coba saja amati sekeliling, pasti ada bahan untuk diceritakan dalam tulisan. Contoh, ketika saya ditilang pak polisi, atau cerita tentang toilet.

Banyak membaca

Guru besar saya membeberkan sebuah rahasia: “Syarat utama menjadi penulis besar adalah rajin membaca.” Tidak hanya membaca buku, koran tetapi juga bisa membaca apa yang ada disekelilingnya. Dengan membaca fenomena sekeliling kita, inspirasi itu akan dengan mudah menghampiri kita. Yang paling sulit adalah menjadikan diri kita untuk mencoba sama dengan contoh, tidak mungkin bisa sama. Sadari semua bersifat unik, karena saya adalah saya, saya suka jalan-jalan tapi saya tidak bisa seperti pejeng-jeng yang suka ndoyok. Menjadi diri sendiri adalah yang terbaik.

Kalau tidak suka membaca bagaimana? Ya semoga saja masih suka googling atau rajin bertanya pada paman google. Atau bisa langsung belajar sama Budi Putra atau bisa mengunjungi kliping artikel tentang bagaimana menjadi seorang penulis.

Menulis itu menguntungkan

Ketika saya mengikuti sebuah workshop bersama Onno W Purbo, beliau share mengapa dia berhasil menelurkan begitu banyak judul buku praktis tentang IT. Tidak lain karena dari menulislah salah satu cara beliau bisa menghidupi keluarga. Bayangkan ketika beliau berhenti menulis, bagaimana kehidupan keluarganya?

Mengapa yang seperti ini tidak kita coba? Kalau yang lain bisa, kita juga bisa meskipun kita tidak mungkin mejadi mereka dan cukup hanya sebagai seorang wartawan kagetan™ saja.

Tidak ada kata terlambat untuk menulis, kalau sekedar untuk menulis di blog, saya sangat menyarankan tanyakan sama ahlinya blogger. Belum tau bagaimana cara menemui mereka? Mudah sekali, datang saja ke PestaBlogger2007, Muktamar Blogger 1428H yang diselenggarakan di Jakarta. Terlalu jauh? Untuk yang di Jogja dan sekitarnya bisa menghadiri Blonjo Kupat, sebuah acara halal bihalal Blogger Jogja dan sekitarnya. Temukan inspirasi anda disana!

11 comments

  1. pembaca yg tangguh sebaiknya menjadi penulis yang rajin, krn bacaan diikat sedemikian rupa sehingga tak mudah pergi. makanya ada yang bilang, menulis itu seperti “mengikat makna”.

    scripta manent verba vollant, yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin.

    (salam kenal pak dhe anto, sering dengar namanya, tapi baru sekarang berkunjung dan meninggalkan jejak)

  2. @PriyayiSae
    Apa kalo malem hari ga lebih enak disco pake LED baru sampeyan?

    @Zen
    “Menulis = mengikat makna”, kita sepakat

    @JeNgKoLHoLiC
    Toilet misalnya?

    @funkshit
    Lha menurut sampeyan asli ketikan saya bukan?

  3. Kalo sampeyan sekarang wartawan Bernas Jogja, inisial esy saya dulu wartawan Bernas antara tahun 1999-2003. Salam buat ibu Arie Giyarto, mas Bimo ya, juvintarto, Suhamdani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s