Tumpeng

Hari minggu kemarin ini, CahAndong merayakan 1st anniversary. Ajang seperti ini pun tak cuma sekedar untuk bertemu di dunia nyata tapi juga untuk belajar paham narsisme yang mungkin tidak dimiliki blogger yang lainnya ketika foto dengan gaya itu-itu saja bahkan berpose seakan-akan mau foto setengah badan.

Well, bukan itu yang ingin saya bahas disini. Dari sekian banyak menu yang ada, saya tertarik pada nasi yang dibentuk mengerucut dan dikelilingi dengan berbagai macam makanan. Ulang tahun, peresmian gedung, tasyakuran biasanya tak luput dari kehadiran makanan yang biasa disebut tumpeng ini.

Saya juga tidak akan membagikan resep bagaimana cara membuat nasi tumpeng yang lezat, meskipun saya tidak ikut ngrahapi tumpeng dalam acara kemarin -karena harus segera merapat ke pagelaran kraton Yogyakarta untuk sekedar melihat salah satu budaya jawa– paling tidak saya percaya tumpeng yang dibawa mbak Unai ini mak nyooosss rasanya.

Filosofi tumpeng

Meskipun saya ini bukan seorang filsuf tapi dulu saya pernah punya guru hebat. Selain guru di kelas beliau juga mengajarkan tentang filsafat, termasuk filosofi tentang tumpeng ini.

  1. Bentuk yang mengerucut sepengetahuan saya yang namanya tumpeng bentuknya selalu kerucut, meskipun dasaran/nya dapat diberikan berbagai macam bentuk. Bentuk ini menggambarkan sebuah kegotongroyongan stakeholder untuk mencapai visi dan misi yang disimbolkan dengan pucuk tumpeng (biasanya ditaruh cabe di atasnya) dengan asas kebersamaan. Jadi sudah jelas organisasi masa dimanapun harus selalu mengedepankan kebersamaan, kegotongroyongan untuk mencapai tujuan.
  2. Paduan berbagai macam sayuran/lauk disekelilingnya Seperti yang sudah dijelaskan dalam ayat satu (keseringan kena pasal-nya pak pulisi jadi latah kata ayat), bahwa peran serta stakeholder sangat berperan dalam tercapainya tujuan sebuah organisasi. Berbagai macam sayuran yang ada di sekeliling tumpeng menggambarkan keanekaragaman masing-masing individu dengan latar belakang dan karakter yang majemuk.
    Meskipun kadang merasa ada orang lain dengan kelakuan yang aneh dan beda dengan manusia yang lainnya, tapi tanpa kehadirannya rasanya jadi beda. Nah disinilah pemaknaan dari sayuran dan lauk yang ada. Semua saling membutuhkan dan saling melengkapi.
  3. Mengapa harus dipotongNah ini yang menjadi pertanyaan mengapa tumpeng harus di potong? Capek-capek di bentuk sedemikian rupa kok akhirnya ya dipotong juga. Perlu diamati, biasanya pemotongan dilakukan oleh orang yang berpengaruh dan diserahkan kepada perwakilan stake holder. Ini menggambarkan bahwa visi, misi dan tujuan yang dilambangkan puncak tumpeng bukan tanggung jawab seorang pemimpin saja tetapi orang-orang yang menjadi bagian di dalamnya juga.

Akhirnya, sebagai pribadi saya mengucapkan selamat kepada CahAndong, yang telah merayakan milad pertamanya pada tujuh Oktober yang lalu. Sukses dan tetaplah jaya udara dan jaya di darat dengan kopdar dan kegiatan-kegiatan sosialnya.

Kesuksesan CahAndong semata-mata bukan ketika memberikan SHU yang besar kepada anggota semacam koperasi tetapi ketika CahAndong bisa bermanfaat dan berguna bagi orang lain, bahasa KR-nya “Migunani tumraping liyan”.

***

Ngomong-ngomong soal ulang tahun, pertanyaan yang tak kalah menarik adalah mengapa dalam acara ulang tahun harus ada tiup lilin bahkan di awal sudah dinyanyikan “Panjang umur”? Padahal bagi yang menganut ajaran/ilmu tertentu mereka justru harus menjaga nyala api lilin di atas air dalam baskom tetap menyala agar bisa kembali dengan selamat –cmiiw-.

5 comments

  1. tambahan soal folosofi tumpeng. biasanya tumpeng berwarna kuning. kuning melambangkan kemakmuran. diharap si pemakan tumpeng bisa makmur.

    terus lauknya biasanya menggunakan berbagai bahan hasil bumi, mulai dari darat, air, dan udara. darat bisa daging sapi, telor, lalu air adalah jenis ikan, dan udara adalah sebangsa unggas, sayuran juga masuk. ini merupakan bukti ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa karena dilimpahi berbagai hasil bumi.

    biasanya ada lombok abang nancap di pucukan tumpeng. ini wujud dari hasil jerih payah. ingat gunung pas erupsi? begitualh kira-kira makna filosofinya..😀

  2. @zam
    Makasih bro, pokoke ga salah kalo anda di nobatkan sebagai penjelajah candi sejati, sampe sesaji dan maknanya tau filosofinya😀

    @kandar4thegoodnews *panjang banget mas*
    Nah blogger yang seperti mas kandar ini yang baik, mohon ijin dulu kalo mau ngambil tulisan orang lain😀

    Di ijinken mas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s