Mangkubumi Hambangun Kutha Wana Asri

Ya, judul di atas adalah judul dari sebuah lakon kethoprak yang dipentaskan di pagelaran kraton Ngayogyokarto Hadiningrat dalam rangka HUT kota Yogyakarta yang ke-251. Meski saya janjian sama mas eko dan bu eko jam 19.30 tapi saya datang terlambat karena ada acara ULTAH komunitas blogger Jogja CahAndong yang ke-1.

Kedatangan kami ke pagelaran kraton bukan tanpa tujuan apa-apa, selain sengaja pengen melihat budaya yang sudah jarang ditemui KETHOPRAK, juga dalam rangka tugas dari tabloid BIAS. Tabloid BIAS adalah tabloid yang diperuntukkan pelajar-pelajar SMU/K dan MA di DIY. Tentu saja di bawah binaan dinas Pendidikan Propinsi DIY.

Kembali ke Pagelaran Kraton. Salah satu tujuan diadakan pentas ini adalah untuk lebih mengenalkan sejarah kota Yogyakarta (lebih tepatnya Mataram) kepada masyarakat sekitar, seperti yang disampaikan ketua penyelenggara dalam pidato sambutannya. Dari sekian banyak penonton yang ada, tampak juga disana beberapa pasangan ABG (Anak Baru Girang Gede), saya pikir memang mau belajar sejarah, we lha jebulnya mau belajar sejarah yang “lain“-nya (maap, no skrinsyut).

Agak lama mendengarkan sambutan dari Ketua Penyelenggara, Bapak Walikota dan Bapak Gubernur akhirnya kethoprak dengan lakon “Mangkubumi Hambangun Kutha Wana Asri” yang didukung oleh beberapa artis ibukota mulai pentas pukul 21.30. Sudah terlalu malam untuk ukuran seorang wartawan kagetan™ semacam saya, yang dari pagi membelah kota Jogja dari Prambanan hingga Pingit dari pukul 10 pagi.

Bagi para penonton bisa melihat pertunjukan kethoprak dari giant screen yang sudah disediakan pihak penyelenggara.

Tidak menunggu sampai pentas selesai, kami pun hengkang WO dari ruang sidang yang terhormat. Ada beberapa yang memaksa kami bertiga untuk segera pulang:

  1. Penonton dibelakang kami banyak ngomong berisik.
  2. Toiletnya jauh, padahal waktu itu saya mengidap HIV (Hasrat Ingin Vivis) sampai-sampai harus berjalan kaki ke Masjid Gede untuk melepas lelah HIV.
  3. Alasan utamanya adalah rasa kantuk dan capek. Saya juga harus konsen melototin lampu bangjo sengaja untuk menghindari perkara-perkara yang tidak saya inginkan (lagi).

Foto : Doc. Mas Eko

13 comments

  1. “Dari sekian banyak penonton yang ada, tampak juga disana beberapa pasangan ABG (Anak Baru Girang Gede), saya pikir memang mau belajar sejarah, we lha jebulnya mau belajar sejarah yang “lain“-nya (maap, no skrinsyut).”

    Kalo njenengan belajar sejarah yang mana mas?😀

    Untuk ukuran seorang wartawan kagetan, liputannya apik tenan lho mas, lain dari yang lain. Ditunggu liputan selanjutnya.. Dimana?! mbok aku melu, halahhh!

  2. @aprikot
    Saya sudah lama ga makan ketoprak

    @unai
    Aku di belakang uang jualan kedelai Bun

    @cinthya
    Kanan kiri oke lah mbak, sejarah itu kan sesuatu yang menarik dan pantas untuk di telaah mebih dalam -heleh-

    Liputan berikutnya di … ( japri aja lah mbak😀 )

  3. di jogja ada giant screen sing lebih besar lho not… di Jl. abubakar ali, sarkem ke timur.
    kl pas pertandingan sepakbola indonesia, d sana jg disiarkan. penonton lumayan mbludak.

  4. @funkshit
    Daripada rapat ketemu sama bapak2 mending ke alun2 bisa liat Abegeh

    @manda
    Justru itu dari ketoprak kita belajar budaya jawa

    @pak pulisi™
    Pasal 204 (baca: 2 pake nol 4 jadi 20.000)

    @aad
    Kan biar ga gaptek tur nggumunan ad

    @iman brotosuseno
    Bukti kalo indonesia sudah ga gaptek

    @PriyayiSae
    Sebenernya saya juga nunggu, kapan ya sholat di Mesjid Gede dengerin khutbah di luar pake Giant Screen?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s