Lu Lagi Lu Lagi (4L)

Kamis, 4 okteber 2007, Hari yang melelahkan, dari pagi sampe hampir jam tiga belum sempat tilik internet eh kok sudah dapet tugas safari Ramadhan di beberapa ruangan pejabat. Dari setting internet sampai install simulator aeromodeling yang baru saja dibeli oleh seorang Bapak.

Bernas

Menjadi sebuah tugas istimewa ketika seorang wartawan kagetan™ bisa belajar kepada wartawan senior bernas. Sebut saja YB. Margantara, direktur LPJB(Lembaga Pelatihan Jurnalistik Bernas) dan Praba Pangribta, ketua PAKYO(Paguyuban Karikaturis Kartunis Yogyakarta). Semua membagikan tips dan trik yang dimiliki.

Tetapi sebelum sampe di Bernas, klatennya malangnya nasibku saya dan teman saya yang berjuluk mas Eko harus berurusan dengan pak polisi lagi. Dalam hati saya batin “Sial, Lu lagi lu lagi”, apa ini balasan kepada seorang wartawan kagetan™ yang suka posting dengan bahan dasar tepung terigu, telor, mentega, gula kesatuan mereka ya? Maaf pak, karena saya sudah ngrasani tentang tulisan yang ada di depan kantor anda, pembuatan surat kehilangan, dan waktu saya mau ngambil SIM dan STNK di Tol Cikampek dan sekali lagi saya mohon ijin menuliskan kisah saya dan dinas anda. Tapi lepas dari itu semua saya tidak akan menduga bahwa ini semua adalah pungli karena saya juga menganut asas praduga tak bersalah seperti di negara kita.

Lampu merah dan marka jalan

Karena baru sekali lewat daerah tersebut, saya tidak tau kalau di pertigaan tersebut harus berhenti meskipun mau belok kiri. Bagaikan tak berdosa saya belok kiri meskipun yang lain berhenti dan berlalu di depan pos penjagaan. Kontan teman yang saya boncengkan langsung panik dan gembrobyos (yang ini sengaja di dramatisir) karena harus ada adegan kejar-kejaran.

Polisi (P) : “Selamat siang pak *sambil hormat*”

Saya (A) : “Selamat siang pak *lepas helm sapa tau saya di kira anggota mumpung masih gundul, hehehehe*”

P : “Bisa liat surat-suratnya pak?”

A : “Oh bisa, surat yang mana ya? *Surat cinta pertama waktu SMP ga saya bawa to ya….*”

P : “*Baca SIM dan STNK yang namanya sama tapi beda alamat* Tau kesalahan anda mengapa saya berhentikan disini?”

A : “*Pura-pura stupid* Ga pak, apa salah saya?”

P : “Anda melanggar lampu merah dan marka jalan. Bapak mau kemana”

A : “Ke Bernas *tapi sayang ga punya ID card Bernas, kalo punya tak liput kowe mas*”

P : “Ya sudah, nanti diambil saja di pos setelah acara di Bernas selesai *jadi baek banget…heran*”

A : “Sampai jam berapa pak?”

P : “Saya sampai jam 9 malam”

Perjalanan saya lanjutkan ke bernas yang tinggal 50 meter lagi. Sesampainya di Bernas tak ada yang saya kenali, asing. Pak YB dan Pak Praba (panggilan akrab saya kepada beliau selama di redaksi Info Kampus UPN) pun juga belum tampak.

Setelah cek ruangan dan sedikit bincang-bincang dengan peserta lainnya, saya putuskan untuk ngambil STNK dan SIM saya di pos. Malang sungguh malang nasibku….

Nyari tambal ban

Ban belakang kami bocor! Apa gara-gara denda saya yang tadi belum dibayar? Ah pusing-pusing amat. Saya pun harus nuntun smash biru hitam saya sampai jalan di selatan kantor Bernas.

Tukang tambal ban (B) : “Wah mas, bocornya gede. Tadi kena paku trus di pake buat jalan ya?”

Saya (A) : “Iya pak, paku nya baru aja dicabut, dan dari tadi saya pake buat jalan”

Mas Eko (E) : “Udah ganti ban aja sekalian, lebih cepet”

A : “Hah? Yo wis pak ganti ban aja sekalian pak tapi ban yang lama tak bawa pulang ya..”

Pas dapat SMS dari sekertaris pak YB pas selesai juga pasang bannya. Acara ke Pos kami tunda dan kami pun segera ke Bernas karena kelas sudah dimulai.

Sudah lama ga dengerin kuliah, membuat saya terkantuk-kantuk meskipun saya duduk disebelah mbak-mbak berdarah china. Materi grafika dan karikatur selesai bertepatan dengan jam buka puasa. Setelah ngambil jatah logistik saya pun pulang dan meluncur ke POS.

Lu lagi lu lagi

Mas polisi yang ngawal aku sampe Bernas tadi masih ada disana di temani seorang rekannya.

A : “Selamat malam Pak! *dengan nada tinggi*”

P : “Eh, selamat malam. Pak Haryanto ya. Sudah buka puasa belum?”

A : “Sudah, tadi disana.”

P : “Gimana mas, sudah tau kesalahannya to. Sekarang gimana?”

A : “Lha maunya gimana, saya manut”

P : “Masnya kerja dimana?”

A : “Somewhere lah…”

P : “Wo kenal pak Wahyu?”

A : “Wa ya kenal banget, dia kan fotografer di redaksi majalah kampus. Kok bisa kenal”

P : “Saya tetangganya, malah masih sodaranya”

A : “*Awas ya, besok duit ini kemungkinan bisa jadi balik kesaya lagi*, Ya udah mas ini buat tanda perkenalan kita *ce ileh…*”

Saya pun pulang ngantar mas Eko dulu yang sudah dari tadi di tunggu bu Eko. Tawaran buka bersama Mas Polisi pun saya tolak, karena saya menghormati beliau-beliau yang nyebut tidak dapat THR pada lebaran besok. Sebenernya saya mau minta foto-foto waktu di Pos, tapi karena saya liat mereka pasti ga bisa narsis di depan lensa mending saya urungkan niat saya. Karena berdasarkan informasi dari rekan saya didit, blogger belum kaffah kalau belum narsis.

Sudahlah, intinya sebelum belok kiri pastikan ada tulisan “Belok kiri ikuti lalin” atau “Belok kiri jalan terus” kalau tidak mau posting semacam ini saya temukan di blog anda. satu lagi kalau ada jalan lurus yang ada lampu lalu lintasnya mohon introspeksi diri terlebih dahulu:

Rambut Lurus jalan terus keriting berhenti, direbounding dulu ya…

16 comments

  1. @atasku

    Tenang mas, skrinsyutnya bisa muncul di posting berikutnya. Masih ada 15 kali pertemuan lagi kok, jadi masih bisa lah kalo sekedar minta foto😀

    Selain foto apa lagi? No HP? Alamat? Status? Biar bisa nanya sekalian..

  2. anngap ae zakat, ntok..

    berarti list daftar penerima zakat nambah lagi, dari 8 jadi 9:

    1. Orang Fakir
    2. Orang Miskin
    3. Amil Zakat
    4. Muallif
    5. Budak yang akan dimerdekakan
    6. Orang terlilit hutang
    7. Orang berjihad fii sabilillah
    8. Ibnu Sabil..

    dan

    9. Pak Pulisi yang ndak menerima THR..

  3. aku baru tau kalau polisi gak dapet THR. malang skali mas.. kmarin katanya fakir benwit skarang dipalak polisi karena belok kiri jalan terus. sabar ya🙂

  4. @aad
    Maksudnya jatah mertua saya bakalan seorang polisi?

    @PriyayiSae
    Yang pengen nambah THR do’anya sudah dikabulkan, yang pengen nyari menantu bisa hubungi nomor hp saya😀

    @ekowanz
    Setelah di cek ke TKP emang ada panahnya mas

    @zam
    Kalo fakir benwit sudah bisa masuk kelompok nomor 1 bukan?

    @nisa
    tak pikir nisa mau sedekah benwit

    @-tikabanget-

    jadi kalo mo ketemu lagi tinggal sms an…

    Saya ndak mau jatuh di lubang (baca: POS) yang sama

  5. @antogirang™
    pos ojek pak polisi ga ada komputernya boss. Sudah lah, jangan2 yang saya berikan kemaren buat nambahi beli disket *hari gini pake disket*

    @mysyam
    Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan keikhlasan saya -heleh- maka nama pak pulisi dan nominal ada pada redaksi -wartawan kagetan™ kumat-

  6. Pingback: Sepi On « Annots

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s