Month: September 2007

Budaya ngarit yang ngaret

Ngarit atau yang dikenal orang-orang dengan merumput adalah kegiatan mencari rumput untuk makan ternak.  Bagi saya dan beberapa rekan saya (funkshit, mas kun)  ngarit adalah usaha mencari pendapatan sampingan.  Pada intinya sama dengan makna ngarit yang sebenarnya cuma kata “rumput” diganti duit dan “ternak” diganti anak.

Sebagai kontraktor (tiap tahun harus tekén kontrak baru) dengan penghasilan sedemikian rupa memaksa kami untuk mencari rumput-rumput di luar jam kerja.  Bahkan kalau masih bisa kami minta satu hari tidak hanya 24 jam tapi bisa jadi 25 jam atau lebih.

Pagi tadi sempat ketemu om Dipto yang menanyakan kepindahan saya dari ruangan yang dipenuhi surga dunia anak SMU yang mau masuk kuliah, ke ruangan saya yang lama.

annots: saya saja sudah ndak standby di bagian pendaftaran
dipto: asyik nu
dipto: lah… ngungsi kemana sampean?
annots: saya kembali ke ruangan asal saya lahir di UPN
annots: tapi efeknya saya jadi sering diajak keluar sama boss
dipto: weh..
dipto: berarti banyak aliran fulus ni
dipto: *eblis ngakak*
annots: ah kalo aliran gawean itu lebih tepat
dipto: weh sekarang kan gawean = fulus
dipto: gawean lancar fulus yo lancar
dipto: bukan begitu bung anots
annots: too many connection
annots: connection refused
annots: *senyum*
dipto:  *ngakak*

Ya, menurutnya “gawean=fulus”, bener juga sih.  Tapi bagaimana kalau gawean dah kelar fulusnya ga kelar-kelar?  Kita ikuti saja anjuran kang Ebiet G Ade, coba tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Advertisements

Catatan perbuatan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada bulan Ramadhan bukan hanya pahala yang berlipat ganda, tetapi jumlah jama’ah sholat yang hadir juga tidak seperti bulan-bulan lainnya. Bahkan ada yang sampai meluber sampai di luar masjid/mushola.

Motivasi

Sebenarnya apa motivasi dari ini semua? Apakah kagetan™, atau kesadaran? Saya berkhusnudzon semua ini adalah kesadaran. Sepuluh hari pertama bulan ini Allah melimpahkan kasih sayangnya, sehingga tanpa kita sadari semua dikerjakan dengan enak, ringan dan tanpa beban bahasa kulon-nya enjoy. Ikhlas mengharap ridho-Nya.

Lain lagi dengan anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar atau pun di bangku SMP. Selidik punya selidik ternyata mereka mendapatkan tugas dari guru agama untuk mencatat semua kegiatan yang di lakukan selama bulan Ramadhan dalam sebuah buku yang diberikan dari pihak sekolah.

Saya jadi teringat ketika dulu saya masih menggunakan seragam putih merah. Sempat punya buku seperti di atas, dan konyolnya karena termasuk anak yang malas saya sih ikut pengajian-pengajian tapi buku saya bawa di awal bulan. Minggu berikutnya saya tinggal nyontek contoh tanda tangan pak Ustadz karena saya malas ngantri tanda tangan -Ya Allah yang Maha Pengampun, hari ini hambamu telah jujur atas kebohongan yang dulu pernah hamba lakukan, ampunilah doda hamba-

Buku ini hanyalah untuk memotivasi agar bisa optimal dalam melaksanakan kegiatan di bulan Ramadhan, meskipun dilakukan sekedar untuk memperoleh nilai dari bapak atau ibu guru -Semoga saya salah menafsirkan-. Bukankan dua nilai sekaligus itu lebih baik? Satu nilai dari guru karena melihat catatan di buku kegiatan bulan Ramadhan dan juga nilai langsung dari Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kemudian, apakah yang sudah dewasa, yang sudah berkeluarga, yang sudah bekerja atau yang tidak sekolah sekali pun bebas dari buku catatan harian ini? TIDAK! Ingat kawan, kita tidak pernah sendiri. Setiap amalan yang kita perbuat sudah di catat oleh 2 petugas Malaikat Raqib dan Atid. Petugas yang tidak pernah mereka-reka dan tidak pernah memanipulasi data.

Jangan takut kehabisan oplah, semua pasti dapet buku catatan amal harian bahkan ini. Seperti apa bukunya? Hmmm, kita akan mengetahui bukunya di kampung akhirat sekaligus kita bisa melihat nilai RAPOR seperti waktu kita masih duduk sebagai pelajar.

Introspeksi diri

Tulisan ini, mengingatkan kita pada sebuah lirik yang dinyanyikan oleh Chrisye.

Apakah kita semua
Benar benar tulus
Menyembah pada-Nya

Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud
Sepenuh hati

Karna sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja

Merenungi setiap bait lagu di atas membuat saya juga bertanya-tanya, apakah selama ini saya sudah benar-benar tulus untuk menggapai ridho Illahi atau cuma karena takut neraka. Selanjutnya mari kita pikirkan bukankah jika kita ikhlas, tulus mencintai Allah insya Allah surga lah balasannya?

Yuk, kita catat yang baik-baik di buku catatan perbuatan kita.

Lirik diambil dari : http://symphozi.blogspot.com

Puasa dan efek kakus

Hari pertama puasa mungkin masih pada lemas pada jam-jam makan siang dan kembali bersemangat mendekati jam-jam buka puasa. Hawanya cuma tidur atau bermalas-malasan dengan alasan “Tidurnya orang puasa itu ibadah“. Agak sulit memang merubah kebiasaan jam makan, apalagi yang sudah terbiasa dapet gratisan makan siang seperti saya dan rekan saya, meskipun sekedar nasi bungkus ayam goreng Padang cukup enak juga kalo dimakan dalam kondisi lapar-selapar-laparnya. Apalagi setiap Jum’at setelah sholat Jum’at saya dan rekan saya yang lain suka mampir di lotek dan gado-gado cabang kolombo yang ada di sebelah timur kampus.

 

Efek kakus

Percaya atau tidak, setelah dua atau tiga hari puasa kebiasaan makan siang akan hilang dengan sendirinya. Sadar atau tidak hal seperti ini sama dengan ketika kita berada di toilet dan nongkrong di atas kakus. Seperti dituliskan oleh Tanadi Santoso dalam blognya.

Bila anda memasuki kakus (WC) yang kotor pertama kali masuk, akan terasa bau busuknya luar biasa, tetapi setelah anda berada didalam sepuluh menit, maka tidak terasa lagi baunya.

Bahkan besok di bulan syawal, mungkin puasa 6 hari di bulan syawal dengan mudahnya kita laksanakan kecuali bagi yang tidak niat untuk puasa syawal.

Berburu pahala, menghapus dosa di bulan Ramadhan.

Gambar diambil dari id.wikipedia.org

13 angka sialkah?

Banyak yang masih beranggapan bahwa angka 13 adalah angka sial. Usal usul mengapa 13 dianggap angka sial bisa dibaca di artikelnya eramuslim.

Ngomong omong soal 13, pemerintah sudah menetapkan tanggal 1 Romadhon 1428 H yang bertepatan dengan tanggal 13 September 2007. Sialkah angka 13? Saya rasa ndak juga, banyak yang menantikan datangnya tanggal 13 September menyambut datangnya bulan yang penuh dengan ampunan dan rahmat dari Allah SWT ini dengan saling minta maaf.

Bulan Ramadhan Bulan Big Sale

Mengapa bulan big sale? Di bulan ini, Allah melipatgandakan pahala semua ibadah yang kita lakukan. Selain itu, biasanya mendekati hari raya hampir disetiap pusat perbelanjaan mengadakan big sale, diskon gede-gedean. Yang ga di diskon sepertinya kok cuma sembako ya, padahal justru itu yang menjadi kebutuhan pokok(ya iyalah namanya juga sembilan bahan pokok).

Banyak orang aneh

Akan banyak orang aneh di bulan ini, seperti yang pernah di tulis oleh rekan saya Manda Kusuma dan yang lainnya. Akan banyak yang pergi ke masjid, ke pengajian, dan hal positif lainnya. Ada juga yang bingung nyari baju koko, mukena yang sudah lama tidak dipakai ternyata ada di tumpukan pakaian paling bawah, atau sibuk bersihin sampul Al-Quran yang tampak kotor penuh debu karena diletakan di almari paling atas. Saya cuma ingin mengingatkan diri saya, supaya jangan sampai hal-hal seperti ini terjadi di tahun-tahun yang akan datang pada diri saya.

Selamatkan puasamu, siapa tahu ramadhan ini terakhir untukmu…

Ya Allah, jadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu bagi kami. Amin…

STOP Beri uang ke pengemis!

Satu langkah yang cukup bijak, akhirnya DPRD DKI Jakarta meloloskan Perda Ketertiban Umum yang salah satunya melarang untuk memberikan uang kepada pengemis dan gelandangan. Selain itu juga dilarang membeli sesuatu dari pedagang asongan. Bagi yang memberikan uang kepada pengemis terancam denda Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 20 juta atau kurungan dua bulan.

Akan lebih bijak lagi, jika pemda setempat memberikan alternatif pekerjaan bagi mereka, sehingga mereka tidak akan banyak alasan ketika peraturan ini diterapkan. Jangan sampai ada alasan untuk menolak pindah ke pekerjaan yang baru seperti ketika relokasi warga kolong jembatan tol yang menolak relokasi hanya karena alasan dengkul seperti laporan rekan saya Didit.

Semoga saja bisa diambil sisi positifnya, dan dengan larangan ini tidak mengurangi niat kita untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu. Tidak harus uang yang bisa kita berikan kepada mereka, bisa pekerjaan bahkan cukup dengan do’a supaya dimudahkan dalam mencari rizki. Ingat, karena memberi ≠ uang.